Ruang Sederhana Berbagi

Senin, Maret 15, 2010

Tak Ada Lapang Besar, Futsal aja!

"Please, don't call me arrogant. I have won Champions League title with Porto, I am The Special One"
- Jose Mourinho
Sepakbola sedang mengalami gairah yang meningkat. Aura Liga Indonesia atau Piala Dunia terasa disetiap sendi anak muda saat ini. Di desa, di kota dimanapun gairah itu sedang naik. Kota, ruang terbatas, gairah sepakbola meningkat, maka Futsal jawabannya. Di sebuah ruangan yang terbagi dua lapang masing-masing berukuran panjang 25-42 m x lebar 15-25 m itu, energi tertumpah. Menendang, menyundul, slading, mengover, mentakle, menggiring bola dan memasukan ke gawang lawan. Energi sepakbola memang mengasyikkan.
Futsal Indoor di Gegerkalong Bandung (dok.pribadi) 

Bisnis, ah lagi-lagi olahraga tidak lepas dari kata yang satu ini. Futsal adalah media bisnis yang paling menggiurkan. Di kota Bandung misalnya terhitung lebih dari puluhan tempat futsal dari yang sederhana sampai yang mewah ada. Sederhana maksudnya fasilitas yang tersedia hanya satu lapangan dengan lantai biasa, sementara yang mewah atau lebih dari sederhana misalnya memakai ruangan luas, rumput sintetis dan penerangan yang memadai. Terasa bedanya ketika bermain di lapangan lantai cor-coran biasa dengan bermain di atas rumput sintetis. Inilah nilai lebihnya fasilitas yang berbanding lurus dengan harga sewa tiap jamnya.

Karena gurihnya bisnis ini, beberapa lokasi futsal di Jalan Antapani Kota Bandung, berjajar bahkan nyaris berdampingan satu sama lain. Belum lagi ditambah yang masuk ke gang-gang kecil di sekitar perumahan. Kondisi yang unik ini menunjukan bahwa geliat bisnis penyewaan lapangan futsal berkembang sangat pesat.
Ada aturan tidak tertulis jika mau membangun fasilitas futsal, tidak ada lahan luas untuk sepakbola. Jika lapangan sepakbola masih banyak atau lahan luas masih tersebar dimana-mana, penyewa lapangan futsal akan sedikit. Itulah mengapa futsal berkembang dengan cepat diperkotaan yang nota bene lahan terbukanya sudah habis oleh perumahan atau gedung-gedung.

Jadi jika tidak ada lapang besar, futsal aja. Bisa jadi bukan karena tidak ada lapang besar tetapi mengumpulkan 2 team (22 orang) untuk bertanding di sepakbola lapangan besar lebih sulit dibandingkan mengumpulkan 2 team (10 orang) untuk bertanding di lapangan futsal. Kalau bagi saya, futsal tidak begitu cape, kalaupun kehabisan nafas bisa bergantian hehe.
Inilah futsal yang meramaikan persepakbolaan kota besar.
Futsal (dok.pribadi)
Futsal Indoor (dok.pribadi)
Menggiring Bola Futsal (dok.pribadi)
Menggiring Bola Futsal (dok.pribadi)
Mengocek Bola (dok.pribadi)
Mengocek Bola (dok.pribadi)
Futsal Outdoor (dok.pribadi)
Futsal Outdoor (dok.pribadi)
Futsal yang dinamis (dok.pribadi)
Futsal yang dinamis (dok.pribadi)
Futsal memang mengasikan, tidak ada lapang besar, futsal aja !
Share:

Rabu, Maret 10, 2010

Mengapa Anarkis!

Supporter Sepakbola (ilustrasi diunduh dari google.com)

Supporter Sepakbola (ilustrasi diunduh dari google.com)

Tak habis pikir jika melihat kerusuhan karena sepakbola, di Liga Super Indonesia sering mendengar pendukung Persija bentrok dengan pendukung Persitara, atau pendukung Arema dengan pendukung Persebaya. Lalu di divisi utama, pendukung PSIM Yogya dengan pendukung PSS Sleman. Tetapi jangan apriori dulu, bahkan di luar negeri pun sering terjadi kerusuhan karena pendukung sepakbola ini. Di Liga Premier Inggris misalnya, pendukung MU sering bentrok dengan musuh bebuyutannya pendukung Liverpool, di Liga italia pendukung Roma dengan pendukung Juventus, di Liga Skotlandia pendukung Glasgow Celtics bentrok dengan Glasgow Ranger.

Inggris dengan istilah supporternya Hooligan dan Italia dengan Ultras-nya bahkan menjadi perhatian khusus pihak keamanan jika salahsatu dari mereka bermain. Dari sini muncul pertanyaan, mengapa anarkis? mengapa sering bentrok dan menyebabkan kerusuhan? inilah pangkal utama mengapa sepakbola ditakuti oleh beberapa orang. Takut bukan karena permainannya, tetapi karena pendukungnya. Beberapa bulan yang lalu headline koran berita nasional, televisi ataupun radio menyimak perilaku pendukung Persebaya, atau pendukung Persijap yang dilempari di Solo dll. Jalanan ketika akan berlangsung sepakbola di sebuah daerah sering terlihat mencekam, teriakan-teriakan, nyanyian dan ayunan bendera team kesayangan menghiasai jalanan. Jalanan benar-benar mencekam, sedikit saja berbuat masalah, bisa repot selanjutnya. Kisah seorang pengendara angkot di Jakarta yang dikeroyok oleh The Jak (pendukung Persija) hanya karena klakson, atau sepeda motor yang ugal-ugalan, belum lagi penjarahan pedagang asongan menambah seramnya jika akan terjadi pertandingan sepakbola.

Sikap anarkis para pendukung sepakbola ini disinyalir karena kecintaannya yang berlebihan, fanatisme salah kaprah dan keterlaluan dalam menumpahkan emosi. Seseorang yang memiliki cinta berlebih pada sesuatu cenderung akan melakukan apapun untuk menumpahkan cintanya. Awal mulanya terjadi kerusuhan karena saling ejek setelah team-nya kalah. Setelah team kalah, diejek pula, ya sudah.. yang keluar adalah emosi tingkat tinggi. Kalau sudah emosi, jangan berharap polisi bisa menenangkan, satu kompi pun bisa dilawan. Diobrak-abrik dengan pentungan, dikejar dan dibubarkan pada hakekatnya adalah untuk meredam emosi yang sudah diubun-ubun kepala. Masa yang berkumpul cenderung mudah disulut, dipanas-panasi dan dierahkan menjadi kerusuhan. Dan polisi benar, membubarkan masa adalah solusi paling baik agar tidak berkumpul lagi emosi-emosi yang tidak tertampung.

Bisakah kita mendukung tanpa anarkis, mendukung dengan sportif saya yakin bisa. Caranya dengan mMembuat efek jera bagi para perusuh adalah solusi yang bisa dipertimbangkan. Maksud saya, perusuh itu pidanakan saja. Bawa ke pengadilan dan buat mereka jera. Sayangnya regulasi peraturan ini tidak diikuti oleh para petinggi PSSI. Pendukung seolah mengolok-olok karena PSSI sendiri tidak mau berubah. Bagaimana mau mengubah sikap anarkis jika PSSI-nya sendiri tidak mau berubah.

Kita optimis saja, jika PSSI berubah, prestasi timnas meningkat dan perilaku pendukung sepakbola menjadi dewasa. Dewasakan dulu PSSI-nya setelah itu baru lakukan pembinaan terhadap pendukung sepakbola.

Share:

Selasa, Maret 09, 2010

Cerpenisasi Kartun Atau Membuat Cerita Pendek Yang Terinspirasi Oleh Gambar Kartun


"You know what love is?
It is all kindness, generosity"
(Rumi)

Saya masih ingat ketika salahsatu Unit Kegiatan Mahasiswa di kampus Setiabudi Bandung mengadakan acara Musikalisasi Puisi. Harap dicatat musikalisasi, entah benar penambahan sasi pada musik atau tidak yang pasti, dalam benak saya, musikalisasi berarti penambahan unsur musik pada puisi, atau sebaliknya puisi yang ditambah unsur musik.
Terinspirasi dari musikalisasi, saya membuat cerpenisasi kartun. Cerpenisasi adalah pembuatan cerita pendek yang berdasarkan kisah di kartun. Cerpenisasi pertama saya yang berhasil adalah kartun Yonk di Buletin Wanadri. Cerpenisasi kartun Yonk, demikian saya menyebutnya. Setiap kartun Yonk keluar, saya selalu buat dalam versi cerpen-nya. Walaupun kadang memaksakan, tetapi ide dasar dari kartun itu bagus untuk dibuatkan cerita pendek.
Selain kartun yong, kartun yang sering saya buat ceritanya adalah Benny dan Mice, salahsatunya adalah Smartphone sejuta umat yang sudah ada di kompasiana. Lalu konpopila, sukribo dll. Membuat cerpen dari kartun sangat mudah, tinggal tulis saja dari persfektif diri sendiri, maka jadilah cerpenisasi kartun.
Cerita pendek, berarti cerita yang pendek, tidak panjang dan tidak bertele tetapi penuh makna. Minimal ada cerita yang bisa di share dengan pembaca, entah itu muatan nilai-nilainya atau pesan-pesan moral lain yang sengaja dibuat oleh pembuatnya.
Inilah cerpenisasi kartun Yonk yang pernah saya buat.


Cat air

Karena Aku…
(Cerpenisasi kartun Yonk)
Oleh Iden Wildensyah
Sore itu…
” Inilah aku! lihat betapa gagahnya aku” dalam hati aku berbicara pada diriku didepan cermin kamarku sebelum berangkat naik gunung besok pagi. Sebuah ucapan yang mungkin saja bagi sebagian orang terkesan angkuh dan sombong.
Tapi apalah artinya sebuah persepsi orang, toh kenyataannya tiap orang berbeda ketika melihat sisi yang dilihat dari fisiknya. Bisa saja berbicara dari aksesoris tapi sisi yang lebih dalam belum tentu orang bisa melihatnya.
“Aku adalah sang penakluk !” kata orang tentang aku, ya… aku pernah lewati batas tipis antara hidup dan mati, ketika di Himalaya. Aku juga pernah tergantung beku dan nyaris mati, sementara garvitasi siap menghempaskanku kelantai bumi ratusan meter di bawahku.
Panas, dingin, hujan dan badai adalah bagian dari petualangan yang terus aku hadapi, sekalipun dingin es di puncak gunung, aku tetap bertahan. Aku dan alam seperti menyatu sebagai media bermainku. Dengan kegiatandi alam bebas semua orang bahkan dunia pun mengenalku setengah tak percaya, tapi itulah aku.
Sementara itu….
Fenomena alam tempatku bermain terus berlangsung siang malam, musim berganti ada kemarau, ada hujan. Bergilir silih berganti alam mendaur ulang setiap waktu. Proses ini bukan tanpa sebab, semuanya memiliki makna bagi kehidupan ini. Di antara proses ini terjadi juga hal yang positif dan negatif yang alamiah. Barangkali proses negatif yang menelan korban yang paling aku ingat. Lihatlah bencana banjir sebanyak 578 rumah dan 58 hektar (ha) lahan pertanian padi di delapan desa di sebuah kota di Indonesia, lalu fenomena air yang sering di konsumsi setiap hari dimana ekploitasi air yang berlebihan karena peningkatan populasi maupun penggunaan yang semakin konsumtif/boros. Sejak tahun 1950, secara global penggunaan air telah berlipat sebanyak tiga kali, dua kali lebih cepat dari peningkatan jumlah penduduk. Tinggi muka air tanah di semua benua saat ini telah mencapai titik terendah dalam sejarah. Berkurangnya sumberdaya air diperkirakan akan menjadi tantangan yang paling mendasar bagi keberlanjutan manusia pada abad 21.
Pencemaran hingga penggundulan hutan semakin menjadi. Aku seperti tidak bisa berbuat apa-apa, akibatnya tanah longsor dan banjir terjadi dimana-mana.
“Apa yang bisa aku lakukan?” aku bertanya pada diriku setiap saat ketika mendengar berita tentang bencana alam ini.
Aku sadar saatnya alam menagih kontribusi dari apa yang selalu manusia “Exploitasi” pada dirinya. Aku juga sadar betapa selama ini kurangnya perhatian kita pada alam dan lingkungan sedikitnya.
Malam itu….
Dengan segelas kopi panas dan sebatang rokok. Sekedar mengisi malamku, aku duduk didepan televisi, menikmati tayangan yang semakin hari semakin menjemukan, sinetron-sinetron palsu pembawa impian yang membuat aku mual melihat tayangan-tayangan sekarang.
Tapi berbeda dengan malam itu, aku sengaja melihat berita terbaru tentang bencana alam di Indonesia. Aku jadi malu dengan diriku, terlintas sejenak aktivitasku, saat dengan gagahnya aku taklukan gunung-gunung, kuarungi angkasa, laut serta jeram-jeram sungainya lalu dengan garangnya aku tancapkan paku-paku tebingku tanpa ampun.
Sejenak aku termenung lalu bertanya masih pada diriku
” untuk apa semua ini?”
Lewat layar kaca didepanku malam itu, aku saksikan bagaimana alam menjerit kesakitan ketika hutan-hutannya digunduli, sungai dan udaranya pun di cemari. Dan ketika rasa sakit sudah tak tak tertahankan alam pun mengamuk.
Tersentak aku memandanginya, aku hanya bisa menahan nafas sembari menghitung berapa korban yang tewas hingga kini. Tak ada yang bisa aku lakukan walau tak ada kata terlambat. Aku akan berikan cinta yang terbaik untuk Tuhan, manusia dan alam semesta.
Selanjutnya…
Besok pagi aku naik gunung sebagai seorang pecinta alam saatnya mulai untuk bergerak bersama menjaga alam ini, melestarikan dan menggunakannya dengan tidak serakah karena aku seorang pencinta alam.
Share:

Senin, Maret 08, 2010

Persentase Pelatih dan Pemain


Jaya Hartono (Foto diunduh dari vivanews.com)

Jaya Hartono (Foto diunduh dari vivanews.com)

Persentase adalah suatu cara untuk menyatakan fraksi dari seratus. Persentase sering ditunjukkan dengan simbol “%”. Persentase juga digunakan meskipun bukan unsur ratusan. Bilangan itu kemudian diskalakan agar dapat dibandingkan dengan seratus. Persentase amat berguna karena orang dapat membandingkan hal yang tidak sama angkanya. (wikipedia.com)

Pertanyaan awalnya adalah berapa persen faktor pelatih dalam menentukan baik atau buruknya sebuah permainan sepakbola?. Jawaban beberapa rekan saya ditempat kerja ternyata beragam, ada yang memberikan cuma 20%, 30%, dan 60%. Saya sendiri mencoba memilah antara pemain, pelatih dan manajemen. Khusus untuk sepakbola Indonesia (timnas) saya memberikan porsi hanya 30% saja, sisanya berada pada manajemen 20% dan pemain 50% lebih besar dari manajemen dan pelatih. Studi kasus yang paling nyata adalah ketika timnas dilatih oleh Peter White (PW), siapa yang meragukan kemampuan pelatih yang punya kapabilitas teruji di asia melalui Thailand, PW berkarakter, punya kemampuan manajemen yang baik. Tetapi apa mau dikata untuk prestasi timnas indonesia tidak sebagus pelatihnya, jadi sementara terjawabkan berapa persen porsi pelatih disini. Logikanya begini ” jika dan hanya jika”. Jika pelatih bagus, pemain bagus, maka permainan bagus jika pelatih tidak bagus, pemain bagus, maka permainan baik. Jika pelatih bagus, pemain tidak bagus, maka permainan kurang bagus. Jika pelatih tidak bagus, pemain tidak bagus maka permainan tidak bagus.

Apakah keputusan menghentikan pelatih ditengah jalan bisa menjadi sebuah solusi bagi tim yang terus menerus kalah? untuk kompetisi luar negeri, rasanya tidak masalah menghentikan pelatih ditengah kompetisi. Lihat saja Chelsea dahulu ketika terpuruk, Mr Spesial One mengundurkan diri lalu diganti Avram Grant prestasinya menanjak sampai finalis Liga Champion. Hal ini karena faktor mental dan fisik pemain yang sudah berada pada tingkat matang kalaupun tidak ya.. mendekatilah. Mental mereka selalu bisa cepat bangkit dari keterpurukan, tidak emosional dan tidak menyalahkan satu sama lain, yang ada adalah bangkit bersama. Dewasa dalam arti yang sesungguhnya, mereka adalah motivator bagi dirinya sendiri.

Untuk Persib Bandung, saya mengambil contoh ketika masa kepelatihan Arcan Iurie. Kesalahan fatal seorang pelatih yang sangat elementer (mengutip komentator sepakbola) adalah merusak kondisi tim yang sudah kondusif. Menurut saya, waktu itu dia salah memprediksi, kuncinya itu saja. Dia takut kehilangan pilar pemain karena harus membela timnas, pikir dia harus ada yang menggantikan dengan kemampuan individu yang sama. Kenyataan prediksi dia salah, kesalahan utamanya adalah merusak kondisi yang sudah kondusif.

Untuk Jaya Hartono sendiri, bertanggungjawab betul, tapi kalau sampai menuntut mundur ditengah kompetisi ketika team anjlok, rasanya kurang bijak. Saya melihat banyak hal positif dari kepemimpinan Jaya Hartono dibanding yang lain. Salahsatunya adalah pemilihan pemain, JH memilih pemain yang memiliki talenta, bukan yang sudah jadi. Pemilihan yang saya lihat juga seimbang siapa yang siap, dia yang akan dipasang di starting up line. Penampilan tim pun tidak bombastis tetapi mengikuti proses, menanjak sedikit demi sedikit. Bandingkan dengan Arcan Iurie, diawal memang bombastis tetapi keropos di akhir, contoh paling mutakhir adalah ketika dia melatih Persik Kediri tahun 2008, coba kurang apa Persik Kediri dengan pemain-pemain bintang timnas dan finalis liga indonesia (PSMS) yang hampir 80% ditarik ke Persik Kediri, pun dengan pemain asingnya yang sudah memiliki kemampuan diatas rata-rata. tetapi apakah persik berada diurutan pertama? ternyata tidak (diluar masalah non teknis).

jadi berapa persen pelatih, pemain, dan manajemen menentukan baik atau buruknya performa sebuah tim? jawaban itu ternyata relatif untuk sepakbola Indonesia. sebagai supporter saya hanya bisa mendoakan saja, saya tidak menuntut mundur ketika performa menurun dan tidak akan menyanjung ketika performa naik, saya hanya bersyukur jika tim kesayangan saya menang. karena tidak mudah jadi bagian dari manajemen begitu pula menjadi pelatih, apalagi menjadi pemain. untuk satu jam bermain futsal saja cape-nya minta ampun… eh minta istirahat apalagi main di Liga Super, ah mimpi kalee!

Bersama Suwitha Patha ketika masih di Persib Bandung (Dok.Pribadi)

Bersama Suwitha Patha ketika masih di Persib Bandung (Dok.Pribadi)

Share:

Sabtu, Maret 06, 2010

Saya dan Persib

Saya mengenal Persib Bandung ketika masih kecil, sejak usia sepuluh tahun saya sudah diperkenalkan oleh Paman saya. Ketika itu sedang jaya-jayanya Persib di era perserikatan. Masa kecil saya dilewatkan di Cikajang-Garut, Cikajang adalah kota kecil di selatan Garut yang terkenal dengan Gunung Ciremai, Papandayan dan perkebunan teh Cisaruni. Cikajang waktu dulu adalah bibitnya Persib Bandung. Cita-cita anak kecil di Cikajang adalah menjadi pemain Persib.

Dari Cikajanglah, pemain Persib bersinar. Sebut saja Uut, Nyanyang, Jajang Nurjaman, Adeng Hudaya dan era sekarang yaitu Zaenal Arif. Untuk nama terakhir, ketika Liga Indonesia sudah profesional tanpa dukungan APBD, Zaenal Arif pindah ke Persisam. Nama-nama itu beken di kampung saya, siapapun pasti mengidolakan pemain itu. Saya masih ingat ketika itu tahun 80an, televisi belum masuk kampung kami, dan satu-satunya alat komunikasi yang selalu menyiarkan acara Persib adalah RRI Bandung. Dengan pembawa acara yang mengebu-gebu ketika salah seorang pemain Persib membawa bola, auranya terasa sampai ke kampung-kampung, apalagi kalau terjadi gol.. berjingkrak, berangkulan dan bersujud atas kemenangan seolah kami merasakan saat-saat mencetak gol. Bayangkan, itu hanya dari indera pendengaran saja, bukan seperti sekarang era televisi.

Uut yang terkenal dengan bola “boseh“nya (boseh diperuntukan pada saat kaki mengayuh sepeda, dalam bahasa Indonesia berarti kayuh) membawa bola dengan kaki seperti mengkayuh sepeda melewati beberapa pemain, mengoper dan goool. Serentak semua pendengar berteriak. Istilah yang kini menjadi tren adalah “ngabobotohan” Persib (ngabobotohan berarti mendukung). Bobotoh kini menjadi nama supporter khusus dari Jawa Barat. Uut adalah fenomena tersendiri bagi saya waktu itu, ditariknya dia ke team Persib karena kelincahannya sewaktu membawa bola, melewati beberapa pemain Persib saat tandang persahabatan ke Cikajang.

Dari cita-cita anak kecil Cikajang yang selalu terngiang dalam benaknya menjadi Pemain Persib inilah saya menjadi punya hubungan spesial dengan Persib Bandung. Setelah mengalami masa-masa kecil dan remaja, saya merasa Persib tetap menjadi bagian dari orang-orang di Jawa Barat. Menurut saya ini sangat unik, Persib berbeda dengan team lain yang ada di Indonesia, Persib bukan milik pecinta sepakbola di Bandung saja, tetapi juga di Jawa Barat, dari Ujung Barat sampai ke perbatasan Jawa Tengah. Bahkan saya pernah membaca tulisan salah seorang wartawan Tribun Jabar, bahwa fanatisme terhadap Persib bukan hanya terjadi di Jawa Barat saja, tetapi juga sebagian Jawa Tengah terutama perbatasan.

Tentu bukan saya saja yang menyukai Persib, bisa jadi anda juga walaupun bukan orang Jawa Barat. Tetapi yang utama adalah tetap menjunjung tinggi sportivitas, dewasa dalam mendukung dan santun dalam bertindak. Menghindari anarkisme, mendukung sepenuh hati dan selalu berteriak “Hidup Persib!”

Bobotoh Persib

Bobotoh Persib

Share:

Sepakbola Indonesia (harus) Bisa Mandiri

Stadion Si Jalak Harupat (Photo by Iden Wildensyah)
Stadion Si Jalak Harupat (Photo by Iden Wildensyah)

Sepakbola adalah tontonan yang menarik di dunia, begitupula di Indonesia tidak peduli bagaimana susahnya mengatur olahraga yang satu ini. Karena bagi masyarakat, sepakbola adalah olah raga yang mengasikan dilihat. Kehilangan tontonan ini tentu saja akan disayangkan oleh banyak pihak. Sepakbola, selain permainan kolektif yang melibatkan banyak orang (11 orang juga sebuah organisasi) tidak lepas juga dari sistem yang lain. Diluar permainan, ada sebuah organisasi yang mengatur.

Persepakbolaan Indonesia berada dibawah payung organisasi bernama PSSI. Sebagai organisasi sepakbola tertinggi PSSI mengeluarkan regulasi yang mengatur masalah-masalah seputar sepakbola di Indonesia. Sebagai organisasi PSSI juga bagian dari AFC (Asia Football Confederation) di Asia dan FIFA (Federation International de Football Asosiation) sebagai lembaga organisasi sepakbola dunia. Salah satu implementasi kepatuhan PSSI terhadap AFC adalah Liga Super yang berbeda dengan Liga sebelumnya. Liga Super dilaksanakan dengan satu wilayah saja, berbeda dengan liga-liga sebelumnya yang pernah dibuat dalam format dua wilayah yaitu wilayah barat dan wilayah Timur bahkan pernah dibuat format tiga wilayah dengan memasukkan wilayah tengah.

Disinilah mulai muncul masalah bagi kebanyak klub peserta Liga Super. Masalah klasik itu bernama dana, sangat rasional memang jika banyak klub yang menjerit dengan kebijakan ini. Ekses dari menggelembungnya biaya akomodasi untuk melakukan pertandingan tandang. Bayangkan saja jika setiap pertandingan yang harus digelar di luar pulau, perjalanannya dipastikan menggunakkan pesawat terbang. Pengecualian untuk klub yang satu pulau yang bisa ditempuh melalui perjalanan darat.
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di Asia, luas wilayah Indonesia sekitar 1.919.440 Km2, bandingkan dengan negara lain yang rata-rata tidak memiliki wilayah seluas Indonesia. Jepang (377.835 Km2), Korea (98.480 Km2) dan Thailand (514.000 Km2) memang tidak bisa dibandingkan dengan Indonesia karena secara infrastruktur, ketiga negara tersebut sudah lebih maju. Untuk menuju kota satu menuju kota lainnya cukup dengan perjalanan darat kereta api, atau bus. Sementara Indonesia, dengan wilayah terluas di Asia Tenggara harus selalu melewati laut untuk bisa sampai ke pulau lainnya.

Melihat kondisi geografis ini idealnya liga di Indonesia menggunakan format lama yang sudah dilaksanakan sebelumnya, dua wilayah atau tiga wilayah. Tidak perlu memaksakan untuk satu wilayah jika memberatkan akomodasi maupun infrastruktur, hanya saja masalahnya posisi tawar Indonesia di AFC tidak kuat sehingga kebijakan membuat format Liga dalam satu wilayah diambil. Rasional memang, kalau kebijakan itu tidak diambil maka klub peserta Liga Indonesia tidak bisa bersaing di Liga Champion Asia diambil. Kalau tidak bertanding di Liga Champion Asia (LCA), kita tidak bisa mengukur keberhasilan klub di ajang yang bergengsi tinggi.

Lebih jauh lagi, iklim bisnis di Indonesia masih belum menyentuh sepakbola. Sepakbola belum dianggap sebagai lahan industri yang bisa menghasilkan keuntungan besar. Bandingkan dengan kondisi di Liga Premier Inggris atau di Liga Calcio Italia dimana sepakbola sudah menjadi industri yang mengejar keuntungan, kebijakan klub berarti keuntungan dan prestasi. Artinya ada hubungan yang signifikan antara prestasi dengan keuntungan, semakin berprestasi sebuah klub, semakin untung perusahan pengelolanya.

Nah, saya berpikir bahwa bagaimanapun sepakbola Indonesia adalah aset bangsa, kemajuan sepakbola Indonesia bisa mengangkat posisi tawar Indonesia di mata sepakbola dunia. Tentunya hal ini bisa terjadi jika mampu membuat prestasi gemilang di kancah yang lebih besar. Permulaaan itu dari Liga Indonesia, maka kebijakan yang harus diambil adalah membuat klub peserta Liga lebih mandiri, selanjutnya memikirkan kembali untuk membuat format yang sesuai dengan kondisi geografis Indonesia agar tidak banyak klub yang kesulitan dana karena akomodasi.

Share:

Wasit Kita




Isu PSSI terbaru adalah konspirasi pengaturan skor yang melibatkan wasit. Wasit adalah pengadil di lapangan sepak bola. Adanya wasit permainan menjadi menarik. Tidak ada kekasaran dan tindakan yang bisa mengakhiri karier seorang pemain sepak bola. Bayangkan jika sepak bola tidak ada wasit. Kedua kesebelasan akan bermain seenaknya, semaunya dan sekasar-kasarnya untuk memenangkan sebuah permainan sepak bola.

Diakui atau tidak, keberadaan wasit tetap dibutuhkan untuk mengatur permainan agar tetap menjunjung tinggi sportivitas, enak ditonton dan menghibur. Tetapi dalam kondisi tertentu keberadaan wasit ini menjadi momok yang menakutkan ketika keputusan-keputusannya kontroversial. Mendukung salahsatu team dan memojokkan team satunya lagi. Permainan menjadi tidak seimbang, tidak enak ditonton dan menimbulkan kecurigaan ada ‘permainan’ dibalik permainan sepak bola sesungguhnya. Terlepas dari ‘permainan’ dibalik permainan yang sesungguhnya. Saya melihat bahwa dinamika wasit akan terus berlangsung selama dinamika sepak bola itu ada. Jadi keberadaan wasit akan tetap ada selama ada sepak bola. Begitu juga dinamikanya, akan tetap menjadi bahan perbincangan selama dinamika sepak bola berlangsung.

Wasit terkadang biasanya jadi tertuduh atas kekalahan satu team, tetapi disisi lain wasit juga menjadi pahlawan bagi kemenangan satu team lainnya. Disinilah timbul kecurigaan adanya konspirasi team dengan wasit. Tetapi jangan salah dan menuduh begitu saja, bahkan didunia belahan manapun, keberadaan wasit ini selalu menjadi polemik. Ferguson misalnya, dalam beberapa kesempatan ketika team MU mengalami kekalahan, wasit menjadi biang kekesalannya dengan mengatakan ”tidak fairlah, tidak memberikan waktu injury time yang tepat, dlsb”. Fergusonpun pernah berurusan dengan FA (PSSI-nya Inggris) karena komentar kontroversial tentang wasit saat MU menghadapi Sunderland. Wasit yang memimpin laga itu bernama Alan Wiley, laga itu sendiri diakhir dengan skor 2-2. Ferguson mengatakan bahwa wasit Alan Wiley hanya memberikan tambahan waktu 4 menit 2 detik.

Dari dalam negeri, yang unik dan bisa menjadi bahan pelajaran bagi semua penikmat sepakbola adalah keputusan Irjen Polisi Alex Bambang Riatmojo Kepala Polda Jateng yang menolak wasit kontroversial memimpin laga sepakbola di Jawa Tengah. Kepolisian Daerah Jateng ini bahkan mendata wasit-wasit yang pernah memberikan keputusan kontroversial. Alasannya cukup sederhana tetapi bermakna, wasit yang kontroversial dikhawatirkan memicu kerusuhan.

Fenomena ini unik jika melihat kondisi sepakbola yang melibatkan kepolisian, tetapi kita harus buka mata dan hati bahwa alasan kerusuhan salahsatunya terjadi karena wasit yang tidak baik memimpin laga. Contoh saja ketika kerusuhan saat babak 8 besar Liga Indonesia dua tahun yang lalu saat wasit menganulir 3 gol Arema Malang ke gawang Persiwa Wamena hingga membuat Aremania marah, mengamuk dan merusak stadion Brawijaya.

Wasit.. Sekali lagi tetap menjadi bagian dari dinamika sepakbola. Inilah asiknya sepakbola, dinamikanya terus berjalan seperti kehidupan. Keberadaan wasit bisa menjadi tontonan menarik, mengasikan dan dinamis tetapi disisi yang lain wasit juga bisa membuat tontonan yang harusnya menarik menjadi menyeramkan, bikin geram dan rusuh. Sebagai pecinta sepakbola tanah air, saya berharap dinamika ini menjadi bagian yang selalu membuat sepakbola menarik, indah dan seni yang tidak bisa digantikan oleh apapun. Wasit diharapkan mampu memimpin pertandingan dengan baik, menunjung tinggi profesionalisme, menjunjung tinggi sportivitas dan fair play. Maju terus sepakbola Indonesia!

Supporter di Si Jalak Harupat (Photo by Iden Wildensyah)

Supporter di Si Jalak Harupat (Photo by Iden Wildensyah)

Share:

Sabtu, Februari 27, 2010

Keranjang Takakura di Rumah Kami

Asiknya Mengaduk Sampah di Kerangjang Takakura (dok.pribadi)
Asiknya Mengaduk Sampah di Kerangjang Takakura (dok.pribadi)

Keranjang takakura ini pada awalnya saya kenali dari program zero waste-nya Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB) di Bandung. Dari informasi yang selalu dikirim melalui pesan di facebook, saya tertarik mengetahui lebih banyak tentang kerangjang ini.

Ide bersambut saat istri berkunjung ke wilayah Coblong yang melakukan pengelolaan di wilayah sendiri secara swadaya dengan baik. Lingkungan menjadi bersih, suasana sehat dan terasa nyaman tanpa sampah berceceran di mana-mana. Pengelolaan sampah dimulai dari rumah, demikianlah yang selalu terngiang dalam benak kami untuk ikut serta mengurangi sampah perkotaan.

Keranjang Takakura adalah konsep membuat kompos yang diperkenalkan oleh Mr Takakura dari Jepang, pembuatannya sangat sederhana dan tidak terlalu banyak elemen yang harus dikerjakannya. Alat-alat yang harus disediakan terdiri dari kerangjang yang bolong-bolong lengkap dengan penutupnya, kardus bekas, kain hitam, kompos yang sudah jadi dan bubuk sekam.

Pembuatan keranjang Takakura pertama kami gagal, kegagalan ini dikarenakan tidakkeranjangnya terlalu kecil dan tidak dilengkapi dengan kompos yang sudah jadi serta sekam. Sampah tetap saja menumpuk di tempat sampah dengan bercampur baur dan berakhir ditempat sampah umum. Menyiasati ini kami membuat lubang di tanah untuk membuat kompos buatan. Lagi-lagi gagal karena lubangnya terlalu kecil sementara sampah organiknya terlalu banyak.

Sebulan berjalan, ibu membawakan kami keranjang Takakura yang sudah lengkap dengan komposnya. Sayapun kembali beraksi menyiapkan semua kebutuhan kerangjang Takakuran, alhasil setelah sebulan berjalan sampah dirumah kami bisa berkurang sedikit demi sedikit, kompos dari keranjang Takakura digunakan untuk memupuki tanaman di taman rumah kami.

Kerangjang Takakura itu

Persediaan pertama adalah kerangjang, lalu kardus bekas (bisa digunakan kardus bekas mie, mainan dlsb), lalu kompos yang sudah jadi, sekam dan kain hitam.

Sekam yang sudah dibungkus kain kassa (dok.pribadi)
Sekam yang sudah dibungkus kain kassa (dok.pribadi)
Kompos yang sudah jadi (dok.pribadi)
Kompos yang sudah jadi (dok.pribadi)

Nah sekarang kita lihat realisasi antara teori dan kenyaatan, sesuai anjuran bahwa yang bisa dimasukan kedalam keranjang Takakura sisa makanan, kulit buah-buahan dan nasi. Lalu sisa sayuran mentah dari dapur seperti batang sayuran yang tidak terpakai, sebelum dimasukan harus diiris dipotong-potong dengan ukuran kecil kecil, saya ambil contoh ketika selesai mengupas Buah Apel.

Makanan yang dikupas (dok.pribadi)
Makanan yang dikupas (dok.pribadi)

Apel yang sudah terkupas, disajikan di atas meja dan kulitnya di iris lalu dimasukan ke kerangjang takakura yang sudah tersedia, satukan dengan kompos.

Dimasukan ke Kerangjang Takakura (dok.pribadi)
Dimasukan ke Kerangjang Takakura (dok.pribadi)

Setelah dimasukan, lalu diaduk-aduk sampai semuanya bersatu antara kompos yang sudah jadi dengan sisa makanan yang dimasukan.

Diaduk (dok.pribadi)
Diaduk (dok.pribadi)

Setelah diaduk lalu ditutup dengan sekam yang sudah disediakan dan dikemas agar siap diangkat dan ditutup.

Ditutup dengan Sekam (dok.pribadi)
Ditutup dengan Sekam (dok.pribadi)

Langkah selanjutnya menutup dengan kain hitam dan rapatkan dengan penutup tempat sampah tersebut. Diamkan selama beberapa hari,Setelah sisa makanan tercampur dengan kompos, hasil kompos keranjang Takakura bisa digunakan untuk memupuki tanaman-tanaman kesayangan anda.

Ditutup Kain Hitam (dok.pribadi)
Ditutup Kain Hitam (dok.pribadi)
Ditutup dengan penutup kerangjang (dok.pribadi)
Ditutup dengan penutup kerangjang (dok.pribadi)

Semoga bermanfaat.. Salam lestari

Share:

Sabtu, Februari 13, 2010

Menebar Ikan Melepas Burung Di Situ Lembang

Bagi para pecinta alam di Indonesia, Situ Lembang bukan nama asing lagi. Tercatat beberapa kegiatan jamboree pecinta alam pernah dilaksanakan di situ lembang. Salahsatunya Gladian Panji Geografi oleh Wanadri, Kopassus dan Bakosurtanal. Lalu Pelatihan Penanggulangan Bencana oleh salahsatu pecinta alam di Kota Bandung dan tentu saja kegiatan pendidikan dasar pecinta alam. Situ Lembang adalah daerah terbatas, tidak semua orang bias mengakses masuk ke situ tersebut. Setidaknya ada dua pos jaga yang harus dilewati. Jika tidak membawa ijin dari Kopassus, jangan berharap bisa masuk wilayah tersebut. Situ Lembang adalah danau yang terletak diantara Gunung Sunda dan Gunung Tangkubanparahu. Suhunya tidak bisa ditebak, apalagi dalam bulan-bulan desember, januari dan maret. Perubahan cuacanya sangat drastis, dari cerah bisa alam waktu yang cepat mendung lalu hujan dengan suhu yang sangat menusuk kulit.

Begitupula seperti yang terjadi Pada 17 januari 2010, ditengah cuaca yang tidak menentu antara cerah dan hujan, Gandawesi KPALH bekerjasama dengan Anaphalis Javanica salahsatu pecinta alam di Kota Bandung, melakukan gerakan sadar lingkungan di Situ Lembang

Peserta terdiri dari anggota Gandawesi dan Anaphalis Javanica serta mahasiswa Fakultas Pendidikan Dan Kejuruan Universita Pendidikan Indonesia (UPI). Gerakan sadar lingkungan ini dalam rangka menumbuhkembang gerakan lingkungan. Selama ini situ lembang dijadikan lokasi pendidikan dasar pecinta alam. Kegiatan adalah kepedulian mahasiswa dan kelompok pecinta alam di kota bandung terhadap kelestarian lingkungan, dalam arti yang sempit kegiatan ini sebagai timbal balik atas jasa lingkungan terhadap kegiatan kepecintaalaman, jika selama pendidikan dasar situ lembang dicari makanan sementara gerakan sadar diusahakan agar tetap banyak makanan.

Kegiatan ini terdiri dari pelepas burung, ikan dan marmot. Peserta dari yang termuda sampai yang tertua larut keceriaan ketika melepas satu persatu binatang lucu-lucu tersebut. Semoga saja ikan, burung dan marmot yang dilepas di situ lembang bisa berkembang dengan baik dan hubungan timbale balik antara alam dengan pemanfaatannya seimbang.

Inilah sebagian dokumentasi pelepasan burung, ikan dan marmut di Situ Lembang

Upacara sebelum memulai

Upacara sebelum memulai

Pembina Upacara, Kang Endang memberikan sambutan

Pembina Upacara, Kang Endang memberikan sambutan

Sambutan dari pihak Anaphalis Javanica

Sambutan dari pihak Anaphalis Javanica

Ceria melepas ikan ke Situ Lembang

Ceria melepas ikan ke Situ Lembang

Byuuur, Ririn melepas ikan

Byuuur, Ririn melepas ikan

Dede 'Ubul' Heriadi hendak melepas burung

Dede 'Ubul' Heriadi hendak melepas burung

Hujan turun, berteduh dan berfoto bersama selesai acara

Hujan turun, berteduh dan berfoto bersama selesai acara

Share:

Postingan Populer