Ruang Sederhana Berbagi

Minggu, Juni 24, 2012

Memoar Sang Guru

Menulis adalah sesuatu yang menyenangkan. Ada kebanggaan saat ide sudah mewujud karya. Ide yang terserak kemudian secara sistematis dikeluarkan melalui tulisan.
Cerpen atau cerita pendek adalah genre yang menarik untuk dicoba. Tantangan menulis cerpen berbeda dengan tantangan menulis artikel. Cerpen butuh sentuhan imajinasi dan emosi, yang menarik lagi adalah mencari penutup atau ending dari cerita yang dibuat. Pesan, tentu saja penting. Tapi yang terpenting juga adalah LAKUKAN SEKARANG!
Ini ajakan menarik dari Eko Prasetyo, menulis Antologi Memoar Sang Guru dan Cerpen Pendidikan


Share:

Minggu, Juni 17, 2012

Penjelasan Tuhan Sekali Jalan

Setelah membaca buku pertama Paul Arden tentang “Think The Opposite“, saya penasaran dengan buku kedua dia tentang Tuhan. Saya ingin mengetahui penjelasan Tuhan oleh Paul Arden yang cukup dengan satu kali perjalanan saja. Kesampingkan dulu sisi subjektif dalam membaca buku dia, resapi dengan penuh pemikiran yang objektif. Dia akan menjungkirbalikan anda sebelum membangkitkan kembali keingintahuan kanak-kanak di dalam syaraf-syaraf anda yang terlalu dewasa.
Buku ini tidak setebal Sejarah Tuhan karya Karen Amstorng, sebuah buku yang menyimpulkan bahwa pengertian tentang Tuhan berkembang dari waktu ke waktu. Bahkan di antara agama-agama yang kelihatannya saling bertentangan dan saling menyerang, seperti Yahudi, Kristen, Katholik, dan Islam (walaupun mempunyai akar yang sama –Abraham), mereka mengalami sejenis “evolusi” pengertian yang sangat mirip. Bahkan dalam Islam yang menganut dengan keras Keesaan Tuhan kadang-kadang muncul pemahaman-pemahaman baru yang bernada-nada trinitas. Manusia dengan segala akal dan daya upaya berusaha mendekati realita ini. Apakah dengan menganggapnya personal, atau sebagai suatu energi yang memancar dan menguasai, atau bahkan ada tidak mau menganggapnya sebagai sesuatu.
TUHAN, satu kata yang sampai sekarang terus mempengaruhi setiap orang. Sejak adanya alam semesta, kata ini terus menggaung di setiap peradaban manusia dalam berbagai nama. Bahkan usaha-usaha untuk meniadakan arti keberadaan-Nya pun sebenarnya secara tidak sadar merupakan bentuk pengakuan akan kehadiran-Nya.
God Explained in Taxi Ride adalah salah satu buku dari penulis yang memiliki pemikiran brilian, nakal, memesona, tempramental dan benar-benar tak terduga. Dari awal Membaca daftar isi buku, kadang-kadang senyum menggelitik. Ada daftar jalur cepat memahami Tuhan. Belum lagi lembaran pertama, dikejutkan, jika kita sedang tak punya waktu, silahkan langsung ke halaman 96. Pada halaman tersebut ditemukan tulisan besar; Jadi, apakah Tuhan itu ada? Jika Tuhan itu ada, dimana Anda bisa menemukannya? Saya menemukannya di sini! Penulis menyebutkan sebuah alamat, mungkin tempat tinggalnya. Kembali penulis menyentak pertanyaan, bermain gambar-gambar, lalu bertanya: Apakah matahari diciptakan tanpa disengaja? Apakah menurutmu matahari hanya tipuan cahaya? Apakah menurutmu mahatari hanya sebuah kebetulan? Kalau iya, berikan pengertian sebuah kebetulan.
Evolusi, takdir, penciptaan, kebetulan. Kita bisa menyebutnya apa saja. Semua itu adalah kata-kata yang kita gunakan untuk menjelaskan hal yang sama. Keberadaan tuhan. Benarlah! Tuhan adalah nama yang kita berikan untuk kekuatan yang ada di balik penciptaan. Itulah yang dipercayai. Jadi, saya percaya Tuhan. Jika kau tak percaya, perjalanan kita berakhir sampai di sini.
Yang menarik bagi saya selain pemaparannya yang to the point serta ilustrasi yang nakal, ada satu halaman yang menggelitik: TUHAN MENOLONG ORANG YANG BERUSAHA MENOLONG DIRINYA SENDIRI/ Kita adalah Tuhan/ Kita terbuat dari zat yang sama dengan zat pembentuk alam semesta/ jadi, ketika kita berdoa, kita juga berdoa kepada diri sendiri./ini bukan soal doa/ ini tentang mengingingkan/ Jika kita mendoakan banyak hal sepintas lalu, doa kita tidak akan terkabul karena kita tidak sungguh-sungguh menginginkan/ Jika kita berdoa dengan tekun dan sabar untuk satu hal, kita seringkali memperoleh apa yang kita inginkan. (hal 44). Hal ini yang menjadi alasan menurut dia mengapa penganut kepercayaan pada zaman dahulu sebenarnya tidak primitif. Walaupun mereka punya banyak dewa tetapi ketika mereka menginginkan sesuatu mereka fokus pada satu dewa, contohnya mereka menginginkan hujan, mereka meminta dewa hujan. Mereka sakit perut, mereka meminta dewa sakit untuk menyembuhkannya. mereka berbicara kepada Tuhan melalui hal-hal yang mereka pahami.
Tentu nilai-nilai kebaikan juga yang saya garis bawahi, buku ini berisi kebaikan kalau dibaca dengan objektif. Sebagian menyebut buku ini sebagai buku motivasi, saya lebih suka menyebutnya sebagai buku spiritual, buku yang menumbuhkan semangat untuk percaya bahwa semua aktifitas kita selalu berhubungan dengan Tuhan. Tuhan Yang Maha Besar, Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang jika lautan jadi tinta tidak akan cukup untuk menuliskan kasih sayangNya.
“Tuhanku Yang Maha Baik, saya percaya benih kebaikan akan menghasilkan buah kebaikan. Saya bersyukur padaMu Yang Maha Bijaksana”
Share:

Postingan Populer