Ruang Sederhana Berbagi

Jumat, Februari 24, 2012

Pencinta Alam Dan Paradigma Gerakan Lingkungan

"Jika ingin mengubah negara untuk kegiatan - kegiatan yang sulit tentang persoalan kebijakan politik, pencinta lingkungan menjadi sumber kekuatan dengan apa saja dapat dilakukan. Jika anda ingin mempunyai negara untuk kepentingan ekonomi, pikirkan diri anda dan generasi anda yang akan datang, saya yakin anda dapat melakukannya"

(Gerlorfd Nelson dalam catalyst conference speech university of Illionis, 1990)

Pecinta Alam Pendaki Gunung
Pencinta alam di Indonesia saat ini belum dirasakan sebagai salah satu akar gerakan lingkungan, terbukti dalam korelasinya saat ini dengan menjamurnya perhimpunan pencinta alam seiring pula dengan kerusakan yang tidak terkendali. Dimanakah letak penyimpangan ini karena keberadaan pencinta alam dalam tataran yang ideal dapat menumbuhkembangkan generasi yang peduli lingkungan. ini patut dikembangkan baik dalam pola gerakan maupun pengembangan organisasinya. Namun dalam tataran real tidak bisa di bedakan antara pencinta alam dan penggiat alam terbuka karena keduanya hampir tidak bisa dibedakan mana yang penggiat dan mana pencinta alam

Model gerakan lingkungan yang berasal dari pencinta alam pada periode kelahirannya lebih menekankan pada kecintaan terhadap alam yang diwujudkan dengan naik gunung, camping, pelatihan konservasi, dan penghijauan di lereng-lereng gunung. Selain kecintaan terhadap alam, mereka ornop dan sebagian pencinta alam masih terkonsentrasi pada model pembangunan. Karena mereka masih meyakini kebenaran model pembengunan berkelanjutan dengan standar kemajuan ekonomi yang sesungguhnya menimbulkan dampak.

Simpulan Paradigma

Dua nama, pencinta alam dan penggiat alam terbuka seolah-olah merupakan satu kesatuan utuh yang tidak bisa di pisahkan antara keduanya. Namun kalau dilihat secara etimologi kata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia akan nampak kelihatan bahwa keduanya tidak ada hubungan satu sama lainnya.

Dalam KBBI, pecinta (alam) ialah orang yang sangat suka akan (alam), sedangkan petualang ialah orang yang suka mencari pengalaman yang sulit-sulit, berbahaya, mengandung resiko tinggi dsd. Dengan demikian, secara etimologi jelas disiratkan dimana keduanya memiliki arah dan tujuan yang berbeda, meskipun space, ruang gerak aktivitas yang dipergunakan keduanya sama, alam.

Dilain pihak, perbedaan itu tidak sebatas lingkup "istilah" saja, tetapi juga langkah yang dijalankan. Seorang pencinta alam lebih populer dengan gerakan enviromentalisme-nya, sementara itu, petualang lebih aktivitasnya lebih lekat dengan aktivitas-aktivitas petualangan seperti pendakian gunung, pemanjatan tebing, pengarungan sungai dan masih banyak lagi kegiatan yang menjadikan alam sebagai medianya.

Belakangan, berlahiran kelompok-kelompok yang mengatasnamakan dirinya sebagai "Kelompok Pecinta Alam, (KPA)". Namun, keberadaaan mereka belum mencirikan kejelasan arah gerak dan pola pengembangan kelompoknya. Jangankan mencitrakan kelompoknya sebagai pecinta alam, sebagai petualang pun tidak. Aktivitas mereka cenderung merupakan aksi-aksi spontanitas yang terdorong atau bahkan terseret oleh medan ego yang tinggi dan sekian image yang telah terlebih dulu dicitrakan oleh KPA-KPA lain, dengan demikian banyak diantara para "pencinta alam" itu cuma sebatas "gaya" yang menggunakan alam sebagai alat.

Pencinta alam dunia dengan gerakan enviromentalisme yang berjuang keras dalam menjaga keseimbangan alam ini patut kita contoh sebagai satu gerakan untuk masa depan, kini yang sering ditanyakan ketika kerusakan alam di negeri ini semakin parah dimanakah pencinta alam, begitupun dengan para petualang yang menggunakan alam sebagai medianya. Bahkan Tak jarang aktivitas mereka berakhir dengan terjadinya tindakan yang justru sangat menyimpang dari makna sebagai pecinta alam, misalkan terjadinya praktek-paktek vandalisme. Inilah sebenarnya yang harus di kembalikan tujuan dan arahnya sehingga jelas fungsi dan gerak merekapun bukan hanya sebagai ajang hura-hura belaka.

Sebuah harapan untuk mengembalikan keseimbangan alam ini supaya terhindar dari terputusnya sistem dalam kehidupan ini bukan tanggung jawab pencinta alam atau penggiat alam terbuka saja tapi tugas kita semua sebagai mahluk penghuni bumi dan dua arah yang berbeda dapat bersatu untuk menciptakan kelestarian alam ini khususnya lingkungan hidup.

Aktivis lingkungan hidup dunia dengan gerakan cinta lingkungannya akan lebih berarti tindakannya dengan dukungan dari para pencinta alam yang ada di negeri ini. Dalam perbedaan pola fikir dan arah gerak pencinta alam dengan penggiat alam terbuka terdapat kesamaan pula dengan media yang sama untuk itu bukanlah suatu kemustahilan keduanya bersatu untuk masa depan lingkungan hidup Indonesia sehingga terciptanya lingkungan hidup yang seimbang, stabil dan bermanfaat bagi kehidupan sekarang dan masa depan.

Sebuah peringatan kepada kemanusiaan yang diterbitkan oleh 1.575 ilmuwan dari enam puluh sembilan negara yan mengikuti Konverensi Rio tahun 1992 perlu kita ketahui sebagai sebuah awal penyadaran untuk lingkungan hidup ini.

"Peringatan " itu berisi bahwa umat manusia dan alam berada pada arah yang bertabrakan. Kegiatan manusia mengakibatkan kerusakan besar pada lingkungan dan sumber daya yang sangat penting yang seringkali tidak dapat di pulihkan. Jika tidak dikaji, banyak dari kegiatan kita skang yang ini menempatkan masa depan pada keadaan yang sangat beresiko, sehingga kita menghadapi realitas masyarakat manusia dan alam tumbuhan dan hewan dan mungkin juga dunia tempat kita hidup ini berubah sedemikian rupa, sehingga tidak dapat lagi mendukung kehidupan menurut cara yan kita kenal. Perubahan fundamental adalah urgen jika kita ingin menghindarkan benturan dalam arah perjalanan kita yang sekarang ini terjadi.(" World scientist Warning to Humanity ") , Pernyataan siaran pers diterbitkan 18 November 1992 oleh The Union of Concerned Scientist.) "

Ancaman yang menempatkan alam dan penghuninya (manusia maupun bukan manusia) berada dalam bahaya ini patut kita ketahui bersama tentang konsekuensi dari berbagai kegiatan yang dilakukan oleh umat manusia sebagai penghuni bumi ini.

Enviromentalisme dan gerakan lingkungan

sebelum melangkah lebih jauh melihat gerakan lingkungan baiknya kita tinjau masalah lingkungan. Masalah masalah lingkungan hidup seringkali tidak menjadi prioritas yang tinggi dan seringkali menjadi sub agenda dengan demikian akhirnya larut dan tenggelam dalam tema-tema kampanye yang lebih luas dan abstrak. sementara itu gerakan lingkungan atau dsebut juga enviromentalisme yaitu suatu faham yang menempatkan lingkungan hidup sebagai pola dan arah gerakannya. Bagi sebagian pihak enviromentalisme mungkin asing karena enviromentalisme dianggap sebagai gerakan yang membahayakan orde pada waktu itu (orde baru) terutama dalam menentukan kebijakan yang berkaitan dengan ekploitasi hutan. Organisasi non politik yang concern pada lingkungan pada masa itu pun di arahkan langsung oleh Emil Salim waktu itu menjabat Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup untuk tidak mengikuti taktik Green Peace ataupun The German Green yang bisa masuk mengkritisi setiap kebijakan pemerintah yang tidak memperhatikan dampak lingkungan hidup terhadap alam ataupun masyarakat.

Sedangkan gerakan lingkungan hidup menurut literatur sosiologi istilah "gerakan lingkungan hidup" digunakan dalam tiga pengertian yaitu pertama sebagai penggambaran perkembangan tingkah laku kolektif (collective behavior). Kedua, sebagai jaringan konflik-konflik dan interaksi politis seputar isu-isu lingkungan hidup dan isu-isu lain yang terkait. Ketiga, sebagai perwujudan dari perubahan opini publik dan nilai-nilai yang menyangkut lingkungan.

Di Indonesia istilah gerakan lingkungan hidup di pakai dalam konsorsium : "15 tahun Gerakan Lingkungan Hidup : Menuju Pembangunan Berwawasan Lingkungan". Yang di selenggarakan oleh kantor Meneg Kependudukan Dan Lingkungan Hidup di Jakarta, 5 Juni 1972.

Denton E Morrison mengusulkan bahwa yang di sebutkan gerakan lingkungan hidup sesungguhnya terdiri dari 3 komponen yaitu komponen pertama, the organized or voluntary enviromental movement ( gerakan lingkungan yang terorganisir atau gerakan yang sukarela ) termasuk dalam kategori ini adalah organisasi lingkungan seperti Enviromental Devense Fund, Green Peace atau di Indonesia ada WALHI Jaringan Pelestarian Hutan "SKEPHI". Komponen kedua, The public enviromental movement (gerakan lingkungan publik ) adalah khalayak ramai yang dengan sikap sehari-hari dalam tindakan dan kata-kata mereka menyatakan kesukaan mereka terhadap ekosistem tertentu, pola hidup tertentu serta flora dan fauna tertentu. Komponen ketiga The Institusional Enviromental Movement (gerakan lingkungan terlembaga ) ini sangat menentukan dalam negara negara berkembang dimana peranan negara sangat dominan dan peranan aparat-aparat birokrasi resmi mempunyai kewenangan hukum (yuridiksi) terhadap kebijakan umum tentang lingkungan hidup atau yang berkaitan dengan lingkungan hidup sebagai contoh di Amerika ada Badan Perlindungan Lingkungan ( EPA - Enviromental Protection Agency), Dinas Pertamanan Nasional ( National Park Service) padanannya di Indonesia adalah Kantor Meneg KLH, DEPHUT.

Komponen gerakan lingkungan terlembaga ini penting untuk di amati sendiri ambilah contoh keberhasilan EPA dalam mengendalikan polusi air dan udara misalnya di pengaruhi kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, kebijaksanaan luar negeri serta ketersediaan sumber-sumber energi

Hakikat gerakan lingkungan menurut Buttel dan Larson mempunyai beberapa manfaat, pertama struktur gerakan lingkungan di setiap negara yakni hubungan diantara tiga komponen itu bisa berbeda-beda dan ini membawa variasi yang cukup berarti di antara paham lingkungan (enviromentalism) negara-negara itu. Kedua, taktik dan ideologi gerakan lingkungan terorganisir di suatu negara dapat di lihat sebagai hasil interaksi diantara komponen - komponen kelas negara itu satu pihak, dan kelompok-kelompok kepentingan (interces group) dilain pihak.

Epilog

Perubahan paradigma dalam tubuh pencinta alam bukan sebuah kemustahilan untuk berubah dan seimbang dengan kegiatan kegiatan alam terbuka yang biasa di gelutinya. Tidak menutup kemungkinan sebuah gerakan radikal untuk masalah kesadaran lingkungan terwujud dalam satu koridor gerakan lingkungan karena masalah lingkungan adalah masalah bersama yang membutuhkan kerjasama dari setiap stake holder pelaku,pemerhati dan aktivis yang bergerak atasnama lingkungan

Dalam konteks gerakan lingkungan, maka tantangan semakin yang semakin besar di masa mendatang mengharuskan kita untuk melakukan reposisi gerakan lingkungan menjadi gerakan sosial, karena ini adalah satu-satunya jalan untuk menghadapi dominasi pasar dan globalisasi (Iden Wildensyah)

Sumber :

* George Junus Aditjondro,2003. Pola-pola Gerakan Lingkungan. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.
* Philif Shobecof,1998. Sebuah Nama Baru Untuk Perdamaian. Yayasan Obor Indonesia.Jakarta.
* soemarwotto, otto,2001, Ekologi,Lingkungan Hidup dan Pembangunan.Djambatan.Jakarta
* Jurnal WACANA Edisi12,Tahun III,2002 Lingkungan Versus Kapitalisme Global, penerbit INSIST Press
* Buletin Wanadri no 17, 2002
* Kalam Jabar, Republika Rabu 25 februari 2004.
* Habitat Newsletter KONUS Volume 03 no 02. Juni - September 2003
* Isola Magazine, media Unit Pers Mahasiswa UPI edisi I,Juli - September 2003
Share:

Sasakala Situ Bagendit

Di wewengkon Banyuresmi Kabupatén Garut, aya situ anu néplak lega ngaranna. Situ Bagendit. Pamandangan di Situ Bagendit pohara éndahna. Nepi ka ayeuna ogé sok loba nu ulin ka Situ bagendit, ngadon lalayaran jeung balakécrakan.

Ceuk ujaring carita, baheulana mah di éta wewengkon éteu aya situ teu sing. Nu aya téh ngaran pilemburan jeung pasawahan waé. Ari dongéngna nepi ka aya situ téh kieu.

Situ Bagendit poto ti tourism.com
Di tengah lembur aya imah anu nenggang ti nu séjén. Nenggang sotéh lain hartina anggang tapi nenggang bédana ti nu imah nu aya di sabudeureunana. Di lembur eta teu aya deui nu imahna nu mapakan gedéna jeung sigrongna salian imah Nyi Endit.

Nyi Endit téh randa pangbeungharna di éta lembur. Imahna ogé pan sakitu agréngna, atuh pakayana lain ukur lega sawahna jeung kebonna, emas jeung berlian gé dipetian.

Nyi Endit mah lain waé kasohor ku beungharna tapi ogé kasohor ku peditna. Sakitu rajakaya ngaleuya, asup kana paribasa “bru di juru bro do panto ngalayah di tengah imah” tapi tara daék barang béré atawa tutulung ka nu butuh. Hasil tatanén kajeun buruk jadi runtuh batan dibikeun ka tatangga mah.
Padahal di éta lembur téh teu saeutik jalama anu sangsara, loba jalma anu dahar isuk heunteu soré. Malah teu saeutik anu maot alatan ku kalaparan. Ěta oge sok aya anu lahlahan nepungan Nyi Endit niat ménta tuluy, tapi lain dibahanan ku pangbutuh kalah diusir bari dicarékan.

Teu saeutik jalma anu nyeri haté nepi ka ceurik balilihan kanyenyerian ku Nyi Endit. Loba rahayat anu carinakdak lantaran teu geunah ku paripolah Nyi Endit nu taya pisan boga niat nalang ka nu keur susah.
Cunduk dina hiji waktu, aya aki-aki rudin leumpangna jajarigjeugan kundang iteuk. Ku saliwat nu carinakdak lantaran teu geunah ku paripolah Nyi Endit anu taya pisan boga niat teh kawas nu keur kalaparan. Nu dijugjug ku aki-aki téh imah Nyi Endit.

Barang nepi ka buruan gedong the aki-aki usuk salam, Nyi Endit anu kabeneran keur ngadaweung di tepas imah bari balakécrakan lain ditémbalan ku kecap nu soméah. Nempo aki-aki rudin teh Nyi Endit nyirintil bari ngahoak.

“ Rék nanaon datang ka dieu. Rek barang pénta? Indit! Kami moal rek mikeunan édahareun.”
Sakitu aki-aki lumengis bari nyebutkeun lapar, Nyi Endit boro-boro aya rasa karunya kalah popolotot nitah indit.

Méméh ngaléos éta laki-laki téh nyarita kénéh ka Nyi Endit.

“Mangkahadé anjeun poho, harta banda téh ukur pihapéan. Dunya barana mah ngan ukur titipan. Nu ku anjeun dipikaboga mah iwal ti amal hadé, jeung kanyaah ka sasama. Lamun nyaah teuing kana dunya urang bisi cilaka!”

Aki-aki ngaléos indit tapi saméméhna nancebkeun heula iteukna di tengah pakarangan imah Nyi Endit. Nempo iteuk nanceb ku Nyi Endit gancang dicabut bari dibalangkeun. Bet ku anéh, tina urut iteuk nanceb the kaluar cai. Mimitina mah cai téh ukur ngaburial lila-lila mah mancer tarik pisan.

Cai tina urut iteuk nanceb teu ereun-ereun. Mimiti ngan ukur ngumplang di pakarangan, lila-lila leleban caah. Cai beuki ngagulidang, Nyi Endit geumpeur.

Nempo lembur ka keueum ku cai téh Nyi Endit mah lain nyingkah cara batur tapi kalah ngeukeupan peti nu eusina emas berlian.

Teu kungsi lila ti harita lembur salin rupa jadi situ. Lembur jeungharta Nyi Endit kakeueum di asar situ. Ceunah mah ceuk nu nyaho Nyi Endit jadi léntah nu gedé nu reunceum ku perhiasan .

Paingan ceuk aki-aki téa dunya jeung harta banda ukur titipan. Geuning Nyi Endit gé kalah cilaka ari loba harta bari teu daék amal hadé mah.


dikopi ti Tabloid Sunda GALURA



Share:

Kamis, Februari 23, 2012

The Crucidle

''Buku ini diawali dengan telaah atas the crucidle'' (pengantar Buku Atlas Budaya Islam)

Saya baru membaca sebuah kalimat di atas sebelum memasuki lembaran-lembaran selanjutnya. Tetapi yang menarik perhatian saya sebelum masuk ke tema adalah The Crucidle. Yah, the crucidle yang berarti peleburan. Peleburan dalam konteks ini adalah realitas sejarah di mana Islam - sebagai agama, budaya, dan peradaban.

Dari kata The Crucidle ini kemudian mewujud sebuah buku atlas yang sangat besar. Ide-idenya kemudian berkembang menjadi sebuah karya besar tentang perjalanan sejarah, budaya dan peradaban dunia. Inilah yang menurut saya menarik.

The crucidle, kemudian saya tangkap. Saya menangkapnya sebagai gagasan awal yang bisa menjadi awal untuk sebuah karya besar. Saya bukan itu saja, ada banyak ide-ide besar lainnya yang muncul. Tetapi, sebagai permulaan, saya tangkap dulu The Crucidle.

Sip, menulis kembali, mencatat kembali dan kembali menulis.

Share:

Senin, Februari 20, 2012

Kreativitas

Life is like riding a bicycle – in order to keep your balance, you must keep moving” -Albert Einstein-
Dalam buku Creativity Inc.:Building an Inventive Organization, Kreativitas adalah proses timbulnya ide yang baru, sedangkan inovasi adalah pengimplementasian ide itu sehingga dapat merubah dunia. Kreativitas membelah batasan dan asumsi, dan membuat koneksi pada hal hal lama yang tidak berhubungan menjadi sesuatu yang baru. Inovasi mengambil ide itu dan mejadikannya menjadi produk atau servis atau proses yang nyata di perusahaan.
Sementara dalam wikipedia Kreativitas adalah proses mental yang melibatkan pemunculan gagasan atau konsep baru, atau hubungan baru antara gagasan dan konsep yang sudah ada. Dari sudut pandang keilmuan, hasil dari pemikiran kreatif (kadang disebut pemikiran divergen) biasanya dianggap memiliki keaslian dan kepantasan. Sebagai alternatif, konsepsi sehari-hari dari kreativitas adalah tindakan membuat sesuatu yang baru.
Orang kreatif memunculkan banyak ide yang bernilai. Tidak semua ide kreatif terlihat cerdas, berisi keajaiban, bermuatan guna, tetapi tidak jarang ide-ide kreatif terlihat jelek, karenanya dianggap hina, dicurigai dan diolok-olok. Pada umumnya, ide kreatif sering ditolak karena bertentangan dengan keadaan yang sedang berlaku. Penolakan oleh masyarakat tersebut, barangkali, untuk memberi kerangka berpikir yang benar –benar menurut takaran mereka. Masyarakat pada umumnya merasa, bahwa ide kreatif melawan status-quo. Dan masyarakat seringkali mengabaikan ide inovatif.
Dalam catatan Najlah Naqiyah, Kerja kreatif akan berhasil jika menggunakan dan menyeimbangkan tiga kemampuan: sintetis, analisis dan praktikal. Ketiga hal ini bisa ditumbuh-kembangkan secara sadar dan terlatih. Kemampuan sintetik adalah kemampuan membangkitkan ide baru dan menarik. Seringkali seorang yang kreatif memiliki unsur berpikir sintetis yang bagus, mampu menghubungkan antara sesuatu hal dengan lainnya secara spontan. Sementara itu, kemampuan analisis adalah cara berpikir kritis, memiliki keterampilan analisis dan evaluasi ide.
Orang kreatif memiliki kemampuan menganalisa pada peristiwa baik atau peristiwa buruk. Dengan mengembangkan kemampuan analisis ini, memungkinkan mereka merubah ide jelek menjadi baik. Sedangkan kemampuan praktikal ialah kemampuan menerjemahkan teori kedalam praktek, dan merubah ide-ide abstrak ke arah kecakapan praktikal. Adapun implikasi penanaman teori kreatif –dengan disertai tiga kemampuan di atas– yaitu, kemampuan meyakinkan orang lain bahwa ide-idenya bisa diterapkan. Namun kendalanya, seringkali kita temukan, seseorang memiliki ide sangat bagus, tetapi tidak bisa menjualnya.
Menjual Ide
Betti Alisjahbana menyampaikan tips penting tentang menjual ide yang menarik dikaji diantara adalah sebagai berikut:
  • Kredibilitas Menentukan
  • Bungkus dengan Narasi Meyakinkan
  • Petakan Ide dari Sisi Pengambil Keputusan
  • Tangani Potensi Resiko
  • Bangun Momentum agar Ide Bergerak Maju
 Kreativitas senantiasa disebut-sebut sebagai modal untuk memenangkan kompetisi, ternyata realitanya masih banyak atasan atau pejabat yang enggan berubah atau tidak mau repot mengubah cara kerja lama yang sudah mapan. Padahal, kita semua tahu, bila kita lebih banyak berfokus pada “here and now” dan menganggap ide adalah hambatan, organisasi pasti tidak akan berkembang.
 Ide adalah produk manusia pekerja yang tidak pernah habis. Ide tidak sama artinya bila belum terimplementasi. Kadang-kadang kita perlu menunggu tahap demi tahap agar keseluruhan ide terealisasi. Namun, kita perlu bergerak aktif, mencari celah untuk bisa menjual ide demi kemajuan tim dan organisasi. Nah, jika sudah kreatif dan punya ide menarik untuk dijual, tidak ada salahnya mencoba. Selamat mencoba! (diolah dari berbagai sumber/Iden Wildensyah)
Share:

Minggu, Februari 19, 2012

Kisah Semut dan Pestisida

Pagi di hari minggu adalah waktu berkebun. Melihat pucuk baru yang muncul di sela-sela dahan rasanya sangat menyenangkan. Melihat kucup bunga yang hendak mekar serta memetik daun kering yang masih tertinggal adalah kesenangan yang tidak tergantikan. Rasanya tenggelam dalam keheningan tetapi mendapatkan banyak makna dari tanaman yang dikunjungi.

Sesekali mengajak bicara, bicara sendiri seperti orang aneh. Tetapi lebih dari itu, bicara dari hati dengan semua ciptaan Tuhan. Saya membayangkan kesenangan ini yang muncul dari hati petani-petani di desa. Karena kesenangannya mereka, hadirlah buah yang manis, padi yang menguning, bunga yang mekar, dan makanan yang segar untuk keluarganya.

Pagi selalu menyenangkan, sama seperti menyenangkannya bermain sepakbola, menulis, bermain, belajar, dan kegiatan lainnya. Kesenangan itu sempat terusik oleh ribuan semut, tetapi semut itu bergembira dalam daun sawo yang hijau. Buah sawo yang cokelat itu kemudian dikerubunginya. Satu persatu saling menyapa, membawa sesuatu yang tidak saya ketahui. Mungkin mereka menanyakan kabar, mungkin juga berbagi informasi tentang makanan yang ada di tempat lain.

Semut maafkan yah!
Sesuatu yang putih menjadi magnet semut untuk datang. Inilah kutu buah yang mengambil sari makanan dari pucuk atau batang buah segar. Pucuk daun atau batang buah adalah kesenangan mereka yang tidak pernah mereka lewatkan. Si kutu ini selalu berada di daerah yang segar-segar. Si kutu ini menjadi bagian yang sangat penting bagi semut. Semut mendapatkan sari buah manis dari hasil pencernaan si kutu putih ini.
Ah.. sayangnya di kutu ini menghancurkan buah dan pucuk tanaman sawo. Secara manual saya pernah mencoba menghilangkan si kutu ini. Tidak berhasil karena selalu saja ada kutu-kutu baru di batang buah dan pucuk itu. Niat jailpun hadir, saya menganggap boleh juga menggunakan pestisida untuk mengusir sebentar kutu buah dan semut ini. Saya juga ingin merasakan sawo itu, kawan! begitulah kira-kira ungkapan saya pada kutu buah dan semut.

Diambillah penyemprot kemudian saya cari pestisida. Usaha pertama tidak berhasil karena tidak menemukan pestisida. Saya tanyakan pada ibu, dan taraaaa.. saya dapatkan pestisida itu. Jenis saya tidak tahu, yang pasti baunya sangat pestisida banget.

Penyemprot dimasukkan air, kemudian pestisida. Setelah tercampur, saya pompa penyemprot itu agar bisa keluar dengan baik. Ujung semprotan diatur sedemikian rupa. Semprotan pertama berhasil, dan lihatlah hasilnya. Semua semut dan kutu buah yang tadi mengerumuni sawo, mati seketika itu juga. Bau pestisida kemudian menyeruak. Saya simpan semprotan itu untuk melihat reaksinya.

Ya ampuunn.. saya merasa berdosa ketika saya melihat semua semut dan kutu buah itu mati. Ada rasa penyesalan yang mendalam saat saya melihat ribuan semut dan kutu buah terkapar. Seketika saya merasa berdosa karena mematikan mereka. Tiba-tiba, dari dalam tanah dua ekor cacing muncul dengan gerakan yang tidak beraturan, saya merasa dia sudah terkena efek pestisida, saya langsung mengambilnya kemudian dicarikan tanah yang tidak terkena pestisida.

Hmmm baru kali ini saya merasa sangat bersalah. Saya merasakan suanana yang hening sekali saat melihat ribuan semut terkapar di dedaunan. Saya pun meminta maaf pada Tuhan atas perbuatan saya, saya berharap Tuhan memaafkan saya. Buat teman-teman yang suka berkebun, pikirkan dalam-dalam sebelum menggunakan pestisida.
Share:

Jumat, Februari 17, 2012

Moral Dan Ilmu Pengetahuan


“Ilmu tanpa bimbingan moral (agama) adalah buta dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh” (Albert Einstein 1879-1917)
Ilmu bukan saja menimbulkan gejala dehumanisasi namun bahkan memungkinkan mengubah hakikat kemanusiaan itu sendiri atau dengan perkataan lain, ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya, namun bahkan kemungkinan mengubah hakikat kemanusiaan itu sendiri, atau dengan perkataan lain, ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya, namun juga menciptakan tujuan hidup itu sendiri[1]. Sehingga mulai timbul pertanyaan untuk apa sebenarnya ilmu itu harus dipergunakan? Di mana batas wewenang penjelajahan keilmuan? Ke arah mana perkembangan keilmuan harus dikalahkan?. Untuk menjawab pertanyaan ini maka ilmuwan berpaling pada hakikat moral.

Tiga definisi yang pendek tentang sains adalah:
  1. Sains ialah accurate thought, ilmu empiris, ialah cara berpikir yang jitu, tepat, atau paham yang nyata.

  2. Sains, ialah organizations of fact, penyusunan bukti.

  3. Sains, ialah simplification by generalisation, penyerderhanaan generalisasi.
Ketiga definisi ini satu sama lainnya berhubungan dan isi mengisi, tambah menambah. Dipandang dari satu penjuru, yang pertamalah definisi yang jitu. Dari penjuru yang lain yang kedualah dan seterusnya.[2].

Pertanyaan besar dalam filsafat adalah sebagai berikut: dari mana datangnya Moralitas? Apakah moralitas dating dari diri kita sendiri? Atau dating dari Tuhan? Atau sebuah fakta moral objektif? Atau apakah moralitas itu adalah sesuatu yang benar atau salah dengan sendirinya, terlepas dari penilaian siapapun terhadapnya?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita diperhadapkan pada sebuah problem-sebuah problem filsafat yang cukup popular. Problem tersebut menyeret kita sekaligus pada dua arah yang saling tarik-menarik. Di satu sisi, tampaknya harus ada fakta moral objektif dan di sisi yang lain, tidak akan ada fakta moral objektif. Mengapa harus ada fakta moral objektif? Karena, ketika kita mengatakan sebagai contoh “membunuh adalah salah” berarti kita telah melakukan penilaian yang benar berdasarkan fakta-fakta yang menunjukan bahwa membunuh adalah salah. Dan fakta tersebut adalah sebuah fakta objektif: membunuh mesti kalah dengan sendirinya, terlepas dari penilaian kita, bahkan Tuhan terhadapnya[3].

Stace mengatakan bahwa moralitas merupakan sarana untuk mencapai kebahagiaan, “seharusnya orang berbuat susila berarti bahwa bila orang ingin berbahagia, maka satu-satunya sarana yang harus digunakannya adalah berbuat susila[4]

Ilmu pengetahuan yang diterapkan bertujuan untuk mempergunakan dan menerapkan ilmu pengetahuan tersebut di dalam masyarakat untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya. Adalah sangat bijaksana apabila manusia-manusia di muka bumi ini dapat memanfaatkan ilmunya untuk memperlajari berbagai gejala atau peristiwa yang menurut anggapannya mempunyai manfaat bagi kehidupan manusia. Pemanfaatan ilmu pengetahuan hendaknya membatasi diri pada hal-hal yang asasi, dan semua orang akan menyambut gembira bila ilmu pengetahuan ini benar-benar dimanfaatkan bagi kemaslahatan manusia[5].

Ilmu pengetahuan hendaknya dikembangkan manusia untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Ilmu pengetahuan yang dikendalikan oleh manusia-manusia yang tidak bermoral telah membawa maut dan penderitaan yang begitu dahsyat kepada umat manusia, sehingga manusia di dunia ini tetap mendambakan perdamaian abadi dengan penemuan-penemuan ilmu yang modern dan canggih ini. Descartes menyatakan bahwa ilmu pengetahuan merupakan serba budi; Immanuel Kant menyatakan ilmu pengetahuan merupakan persatuan antara budi dan pengalaman. Ilmu pengetahuan selain tersusun secara sistematis dengan menggunakan kekuatan pemikiran juga harus mengandung nilai etis atau moral, dikatakan beretis atau bermoral adalah harus mengandung nilai yang bermakna dan berarti, berguna bagi kehidupan manusia. Ilmu pengetahuan bukan saja mengandung kebenaran-kebenaran tapi juga kebaikan-kebaikan[6].

Dalam menggerayangi hakekat ilmu, sewaktu kita mulai menyentuh nilainya yang dalam, di situ kita terdorong untuk bersikap hormat kepada ilmu. Hormat pertama-tama tak ditujukan kepada ilmu murni tetapi ilmu sebagaimana telah diterapkan dalam kehidupan. Sebenarnya nilai ilmu terletak pada penerapannya. Ilmu mengabdi masyarakat sehingga ia menjadi sarana kemajuan. Boleh saja orang mengatakan bahwa ilmu itu mengejar kebenaran dan kebenaran itu merupakan inti etika ilmu, tetapi jangan dilupakan bahwa kebenaran itu ditentukan oleh derajat penerapan praktis dari ilmu. Pandangan yang demikian itu termasuk faham pragmatisme tentang kebenaran. Di situ kebenaran merupakan suatu ide yang berlandaskan efek-efek praktis[7]

Teknologi yang merupakan konsep ilmiah yang menjelma dalam bentuk konkret telah mengalihkan ilmu dari tahap kontemplasi ke manipulasi. Dalam tahap manipulasi ini masalah moral muncul kembali berkaitan dengan cara penggunaan pengetahuan ilmiah. Dihadapkan dengan masalah moral, ilmuwan terbagi menjadi dua.

Golongan pertama menginginkan ilmu harus bersifat netral terhadap nilai-nilai baik secara ontologis maupun secara aksiologis. Sehingga tugas ilmuwan adalah menemukan pengetahuan dan terserah pada penggunanya untuk menggunakan pengetahuan tersebut demi tujuan baik atau buruk.

Golongan kedua sebaliknya berpendapat bahwa netralitas ilmu terhadap nilai-nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan, sedangkan dalam penggunaannya, bahkan pemilihan obyek penelitian, maka kegiatan keilmuan harus berlandaskan asas-asas moral. Charles Darwin mengatakan bahwa tahapan tertinggi dalam kebudayaan moral manusia adalah ketika kita menyadari bahwa kita seyogyanya mengontrol pikiran kita.[8]

Pada akhirnya, moral dan ilmu pengetahuan satu sama lain berhubungan, jika ada salah satu yang dominan dan belum bisa menyeimbangkannya, berarti ada yang salah atau belum menemukan sisi yang lain dari keduanya. Jika itu sudah seimbang, bersyukurlah, semoga kita termasuk orang yang bijaksana. (Iden Wildensyah)



[1] Jujun S, Suriasumantri, Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer. (Jakarta: Pustakan Sinar Harapan) Hal 231
[2] Tan Malaka, MADILOG.(Jakarta: Pusat Data Indikator) hal 58
[3] Stephen Law, Filsafat itu Heboh (Jakarta: Teraju) hal 185
[4] Louis O. Kattsof. Pengantar Filsafat. (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya) Hal 350
[5] Abu Ahmadi, Ilmu Sosial Dasar (Jakarta: Rineka Cipta) hal 333
[6] Abu Ahmadi, ibid.
[7] Jujun S. Suriasumantri. Ilmu dalam Persfektif. (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia) Hal 234
[8] Jujun S, Suriasumantri, op.cit. Hal 235
Share:

Monumen Sepeda di Cimahi


Sebagaimana monumen lainnya yang dibuat dengan tujuan khusus, saya beranggapan bahwa 7 sepeda tersebut juga memiliki makna yang ingin disampaikan kepada khalayak.

Sebelum memasuki lebih jauh, saya ingin menegaskan tentang patung atau monumen. Ini menjadi penting karena saya kebingungan pada saat menentukan judul. Baiklah kita tinjau secara definisi. Menurut salah satu sumber, patung adalah benda tiga dimensi karya manusia yang diakui secara khusus sebagai suatu karya seni. Orang yang menciptakan patung disebut pematung. Tujuan penciptaan patung adalah untuk menghasilkan karya seni yang dapat bertahan selama mungkin. Karenanya, patung biasanya dibuat dengan menggunakan bahan yang tahan lama dan sering kali mahal, terutama dari perunggu dan batu seperti marmer, kapur, dan granit. Kadang, walaupun sangat jarang, digunakan pula bahan berharga seperti emas, perak, jade, dan gading. Bahan yang lebih umum dan tidak terlalu mahal digunakan untuk tujuan yang lebih luar, termasuk kayu, keramik, dan logam.

Sementara monumen adalah jenis bangunan yang dibuat untuk memperingati seseorang atau peristiwa yang dianggap penting oleh suatu kelompok sosial sebagai bagian dari peringatan kejadian pada masa lalu. Seringkali monumen berfungsi sebagai suatu upaya untuk memperindah penampilan suatu kota atau lokasi tertentu. Misalnya di beberapa ibu kota pusat pemerintahan seperti Washington D.C., New Delhi, dan Brasília memang telah dirancang sedemikian rupa sehingga dibangun meliputi banyak monumen kenegaraan. Lokasi Monumen Washington dirancang untuk membentuk ruang publik yang rapi dan teratur.

Dari dua definisi di atas saya lebih suka menyebutnya sebagai monumen bukan patung. Dasarnya adalah tujuan, patung bisa jadi semata-mata karena ekspresi seniman saja, sementara monumen bisa jadi ada tujuan-tujuan khusus dari pembuatannya. Nah, monumen sepeda tersebut lebih layak disebut sebagai monumen daripada patung.

Makna 7 Sepeda

Monumen yang menarik itu adalah sebuah rangkaian sepeda yang melengkung. Cobalah tengok jika anda melewati Cimahi. Ada sesuatu yang menarik perhatian dan baru di kota ini. Apalagi kalau bukan sebuah patung sepeda yang melengkung seolah-olah mau terbang. Sepeda yang ada di patung tersebut beragam, dari mulai sepeda baheula sampai sepeda jaman kini, dari ukuran gede sampai yang kecil ada dalam patung tersebut. Walaupun memang tetap saja tidak selengkap koleksi museum sepeda.
132701718463795509
7 Sepeda pada malam hari (dok pribadi)
Sebagaimana monumen lainnya yang dibuat dengan tujuan khusus, saya beranggapan bahwa 7 sepeda tersebut juga memiliki makna yang ingin disampaikan kepada khalayak. Misalnya pesan tentang raman lingkungan, sepeda biasanya menjadi refresentasi dari gerakan ramah lingkungan. Atau bisa jadi Sepeda juga menjadi lambang gerakan feminism. Ajakan atau kampanye dalam 7 sepeda tersebut bisa jadi beragam seusai interpretasi. Mengajak warga untuk ramah lingkungan, mendukung gerakan feminism, mendukung kampanye bersepeda ke tempat kerja, sekolah, dll.

Makna 7 juga bisa memiliki banyak tafsiran dan makna. Dalam Ilmu pengetahuan, angka 7 adalah dasar dari akumulasi angka yang tak terhitung jumlahnya, mulai dari 7 atom, 7 partikel terkecil dan seterusnya Misalnya  di China angka 7 dihubungkan dengan kehidupan gadis, dimana gadis mempunyai gigi susu pada usia 7 bulan dan tanggal pada usia 7 tahun, dalam 2 x 7 tahun “roda yin” membuka ketika ia mencapai masa puber, dan pada 7 x 7 = 49 datanglah masa monopause.

Dalam islam, yang menarik dan untuk dicatat adalah, bahwa surah pertama dalam Al-Qur’an, Al-Fatihah mempunyai 7 ayat. Kalimah Syahadat dalam Laa Ilaaha ilaa Allaah, Muhammad rasul Allah terdiri dari 7 kata. Menurut Al-Qur’an Tuhan menciptakan langit dan bumi menjadi 7 lapis. Lalu Thawaf mengelilingi Ka’bah di Mekkah dilakukan sebanyak 7 kali, demikian juga dengan lari lari kecil (Sa’i) antara Shafa dan Marwah. Pada akhir haji, dekat Mina, syetan di lempar dalam 3 kali masing masing dengan 7 buah kerikil kecil yang lazim disebut (melempar jumroh). Angka 7 juga disukai oleh kaum Sufi. Tasawuf memperbincangkan 7 Lathaaif, atau titik titik subtil pada tubuh tempat kaum Sufi memusatkan kekuatan spiritualnya.

Dalam tradisi Jawa, ada moment tertentu yang berhubungan dengan angka 7. Sebagai contoh ketika orang hamil sudah usia 7 bulan, maka diadakan selamatan dengan istilah yang disebut “Tingkepan”. Lalu pada bayi yang telah berusia 7 bulan, maka ada prosesi yang dinamakan turun tanah. Persyaratan Upacara adat tertentu harus menggunakan kembang 7 rupa, mandi 7 sumur, pesta kadang - kadang diadakan 7 hari 7 malam.

Nah di luar makna angka 7 tersebut, 7 sepeda bisa beragam interpretasi. Bisa jadi 7 keluarga, 7 dukungan, 7 kecamatan, 7 dananya, 7 pembuatnya, atau bisa jadi 7 karena pembuatnya 7 orang dan menyukai pemain bola bernomor 7 seperti CR7, Atep, Beckham. Saking mengidolakannya pemain nomor 7, monumen pun dibuat sebanyak 7 buah. Tetapi yang tidak saya sukai dari monumen 7 sepeda tersebut hanya satu, warna. Entah apapun itu warnanya terlalu mencolok dan partai banget. Seperti partai yang berwarna-warna, atau malah ini interpretasi juga yah? Sesuai interpretasi, itulah seni mengapresiasi seni. (Iden Wildensyah)
Share:

Berakhir di Bahasa


Tiga hal yang menjadi penting di era sekarang adalah kemampuan bahasa, kemampuan retorika, dan kemampuan menulis. Tiga hal tersebut muncul dari diskusi kreativitas bersama Acep Iwan Saidi, seorang penulis hebat yang sering saya baca tulisannya di media cetak. Pak Iwan, demikian saya memanggil beliau kalau bertemu di sekolah. Sore itu Pak Iwan menjadi narasumber untuk diskusi yang rutin dilaksanakan setiap selasa pukul 13.30. Pak Iwan menyampaikan beberapa contoh tentang keterkaitan antara kreatifitas, bahasa, dan seni serta pentingnya dalam pembelajaran anak.
Bahasa adalah hal penting setelah inovasi mewujud bentuk dan bentuk menjadi mati ketika kita tidak bisa mendefinisikan dalam bahasa. Misalnya seorang inovator dengan kreatifitasnya berhasil menciptakan penemuan robot pemadam kebakaran. Si robot pemadam kebakaran akan menjadi sebuah benda bernilai lebih saat seorang inovator menjelaskan perihal robot tersebut. Robot tersebut kemudian akan bernilai lebih lagi ketika dia sudah diketahui oleh masyarakat umum, tentang kegunaannya, tentang cara pemakaiannya, dll. Robot tidak akan menjelaskan secara langsung siapa dirinya jika tidak diprogram oleh manusia yang menciptakan.
Contoh lainnya misal sebuah kursi hasil inovasi dengan berbagai bentuk dan tambahan lainnya. Kursi akan bernilai ketika dia bisa dibahasakan melalui iklan, melalui narasi, dll. Kursi baru hasil inovasi akan diam begitu saja tanpa diketahui orang lain jika sang inovator tidak berusaha membahasakan.
Pembangunan apartemen dan perumahan hasil kolaborasi teknik sipil dan teknik arsitektur akan bernilai dan berharga ketika dibahasakan dengan baik kepada masyarakat. Lihat saja misalnya seorang marketing ketika menyampaikan harga mahal tetapi seperti biasa saja karena dibahasakan dengan baik. Seperti ”apartemen ini bebas macet, keluar tol dalam kota langsung masuk komplek apartemen. Harganya dijamin murah, hanya dengan dua ratus lima puluh juta perbulan, anda sudah bisa menempati ruang ekslusif dengan jaminan keamanan dan kenyamanan”. Bayangkan hanya dengan dua ratus lima puluh juta rupiah perbulan (Rp250.000.000,00/bulan) !. Fantastis tetapi seperti biasa saja saat dibahasakan dengan intonasi yang baik dan meyakinkan.
Itulah beberapa contoh tentang bahasa memegang peranan penting baik dalam menyampaikan gagasan atau juga menyampaikan hasil gagasan tersebut. Inilah yang saya sebut sebagai berakhir di bahasa. Selain selanjutnya adalah kemampuan retorika. Kemampuan retorika atau kemampuan menyampaikan gagasan melalui argumentasi yang kuat. Retorika seperti kelanjutan dari bahasa. Seorang yang memiliki kemampuan bahasa dengan baik akan lebih bisa menjelaskan sesuatu dengan baik dibanding orang yang tidak memiliki kemampuan berbahasa. Retorika berdasar pada bahasa yang disampaikan, itu berarti argumentasi akan kuat ketika bahasa penyampaian efektif. Dan penyampaian yang efektif membuat sesuatu yang dibahasakan menjadi sampai pada tujuan yang akan dicapai. Tujuan tersebut misalnya ketika menyampaikan gagasan atau inovasi yang mewujud.
Jika berbahasa dengan baik sudah, berinovasi juga sudah, selanjutnya tentu saja menulis. Menulis adalah bagian dari menuangkan gagasan dalam bentuk nyata. Menulis harus memiliki kemampuan bahasa yang baik, argumentasi yang kuat, dan logika bahasa yang baik juga. Ini adalah bagian dari kreatifitas agar tidak mati setelah mewujud. Dia harus dituliskan, harus disebarkan pada semua khalayak terutama untuk inovasi yang penting untuk masyarakat. Tujuannya tidak lain adalah untuk kebaikan semua. Menulis merupakan bagian tidak terpisahkan dari bidang keilmuan apapun. Dia holistik. Dulu saya mengatakan pada dosen waktu kuliah di Jalan Setiabudi 207 Bandung bahwa keilmuan itu menjadi mati ketika dosen atau mahasiswa tidak berusaha menuliskannya di surat kabar. Surat kabar menjadi sebuah media terbaik untuk membagi hasil pemikiran. Dari pemikiran yang dikirim ke media, khalayak menjadi berpengetahuan. Pengetahuan menjadi milik bersama yang tidak terbatas pada lembaga pendidikan saja.
Share:

Selasa, Mei 10, 2011

Colin Beaven si Kreatif!

Saya katakan demikian saja, karena awalnya saya ingin menulis judul dengan kalimat “Si Gila Collin Beaven”. Tetapi karena konotasi gila bagi beberapa pembaca termasuk kata negative yang tidak patut ditiru maka saya ubah menjadi kalimat seperti di atas. Saya mengetahui Colin Beaven dari acara Markinon yang rutin digagas oleh YPBB (Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi) di Bandung. Seperti biasa bertempat di Walhi (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) Jawa Barat, walaupun dalam beberapa waktu tempatnya berpindah-pindah.

http://noimpactman.typepad.com/
Saya bersyukur bisa mengikuti salah satu acara itu. No Impact Man menurut saya menarik untuk diikuti, sekedar merefresh atau mencari alternative gerakan lingkungan. Gerakan lingkungan alternative yang bisa dijadikan acuan untuk diri sendiri. Syukur-syukur kalau bisa dibagikan kepada orang lain. Dari informasi di selebaran facebook saya mendapatkan bahwa No Impact Man bercerita tentang sebuah keluarga yang berkomitmen untuk mencoba hidup tanpa listrik, kosmetik, berbagai bahan pembersih yang berbahan kimia sintetis, kendaraan bermotor dan segala pernak-pernik kehidupan di kota besar. Sangat menarik dan membuat saya penasaran.
Saya terlambat beberapa menit, si Colin Beaven sudah bercerita sebelumnya. Saya ikuti saja sampai akhir. Film itu sebuah documenter tentang keluarga si Colin Beaven yang menjalankan proyek No Impact Man selama 6 bulan. Hidup di belantara kota tanpa listrik, bahan kimia, kendaraan bermotor, mengonsumsi makanan organic, dan selalu kampanye lingkungan ke sekitarnya. Salah satu media kampanye yang selalu dia lakukan adalah memosting catatanya melalui blog.
Ceritanya berjalan seperti reality show pada umumnya, tidak ada kejutan-kejutan yang muncul di awal atau di akhir adegan. Cenderung lurus dan apa adanya. Yah… begitulah adanya, tidak ada yang perlu dikejutkan. Cuma memang saya melihat itulah Amerika. Segala sesuatu yang terjadi di Amerika bisa dipastikan akan mendunia, dalam film itu diceritakan si Colin Beaven mengisi acara-acara Talk Show diberbagai televise dan radio di Amerika. Kisahnya dimuat di beberapa harian cetak. Pokoknya sangat popular dengan gerakannya atau proyek No Impact Man-nya.
Sisi manusiawi juga muncul saat Colin Beaven berbincang dengan istrinya, selalu ada pertentangan antara idealism dengan pragmatism, dikala frustasi istrinya menganggap proyek tersebut sebagai sesuatu yang sia-sia, tetapi Colin Beaven selalu meyakinkan bahwa gerakan No Impact Man mempunyai kontribusi besar terhadap kualitas lingkungan dan masa depan. Misalnya saat Colin Beaven memilih konsep Pot dalam Pot untuk menggantikan Kulkas, kemudian istrinya protes karena tidak ada air dingin, lalu kompromi mereka berakhir pada tempat penyimpanan yang diisi es, es meminta dari tetangga. Kreatif, tentu saja. Untuk hidup tanpa kendaraan, tanpa listrik, makan makanan organik membutuhkan kreatifitas yang tinggi. Dan Colin Beaven membuktikan betapa dia sangat kreatif menyikapi kebutuhan hidupnya tanpa harus mengorbankan lingkungan. Misalnya seperti kulkas tadi, kemudian keranjang takakura, solar cell, dll. Tidak kalah penting selain sisi kreatif yang saya garis bawahi, Colin Beaven menunjukan semangat belajarnya yang tinggi. Dia tidak berhenti untuk belajar, dia belajar terus seperti mencari ilmu tentang pertanian organik, pengetahuan tentang sampah, lobi ke senat, dll.
Selanjutnya, pelajaran apa saja sih yang didapat dari menonton film tersebut? Dari beberapa orang yang mengikuti diskusi saya mendapatkan gambaran. Pertama, untuk menjalankan proyek seperti Colin Beaven itu butuh idealism tinggi. Kedua, jika idealism kita belum setinggi Colin Beaven kita bisa mengambil hal terkecil yang bisa kita perbuat untuk lingkungan. Untuk hal ini ada banyak ragam, seperti mengurangi memakan daging kemudian menjadi vegetarian, bersepeda, selalu membawa botol air minum, mengurangi sampah, lalu yang merokok ada yang memberikan usulan dari membeli rokok kemasan jadi beralih ke rokok lintingan, dll.
Yang menarik selain film atau tontonannya juga refleksi setelah menonton No Impact Man. Disinilah kita bisa mengetahui film tersebut memberikan kesan bagi penontonnya. Film itu bagus, ringan, dan tidak perlu dipikirkan untuk menebak akhir atau alur ceritanya. Yang menjadi pertanyaan, setelah mereka menjalankan proyek selama 6 bulan tersebut, apakah selanjutnya akan berlangsung seperti itu?. Sip kembalikan pada penonton dan mereka yang peduli lingkungan.
Salut untuk alternative gerakan lingkungan seperti itu, jika kita tidak punya idealism sebesar Colin Beaven, kita bisa melakukan sesuai kapasitas dan kemampuan kita. Let’s Go Green!
Share:

Postingan Populer