Ruang Sederhana Berbagi

Tampilkan postingan dengan label Manusia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manusia. Tampilkan semua postingan

Senin, April 28, 2014

Tanya Google Ajaa...!

Suatu sore di hari Sabtu, seperti biasa jadwal rutin bergiat di Studi Group Diagonal. Diskusi tentang Sekolah Waldorf, membahas pemikiran Rudolf Steiner, kajian guru, kajian tradisional, serta berkarya. Teman saya @carolinenajoan berbicara tentang ritme alam semesta. Dia berpesan untuk jeli melihat perubahan alam terutama kita yang hidup di wilayah tropis atau equator.

Ingatan saya kemudian melayang ke masa-masa di kampung. Saat waktu peralihan musim selalu ditandai dengan kehadiran bunga, tanaman, atau mahluk hidup lainnya seperti belalang, burung, serangga, dan lain-lain.

Google
"Oh iya, ada perhitungan waktu dalam masyarakat sunda yaitu mangsa-mangsa. (Belakangan tahu ada pranata mangsa)" kata saya. Lalu dicarilah mangsa dalam adat sunda. Muncul pranata mangsa. Dalam satu mangsa ada petunjuk tentang datangnya hama kungkang. Lalu @carolinenajoan bertanya "Kak, apa itu kungkang?". Lalu saya jawab, "Cari aja di google". Terus ia berkata, "Nah itu dia jeleknya sekarang, orang jadi malas menjelaskan malah menyuruh untuk mencari di google.

Rasanya kayak ditembak tepat dikepala kemudian terkapar tak berdaya. Benar! Sekarang rasanya google sudah menjadi dewa pengetahuan dan membuat orang jadi malas berpikir karena merasa sudah tersedia di luar dirinya.

Bayangkan jika itu tidak diingatkan, makin malas dan makin tidak berpikir dari dalam melalui pengolahan terlebih dahulu tetapi langsung berharap google bisa menjawabnya. Tak terbayang manusia menjadi seperti robot yang bergerak otomatis sementara kendalinya ada di luar. Makanya benar jika ajakan menjadi manusia kembali itu dengan mengurangi berinteraksi dengan teknologi. Batasi penggunaannya dan atur oleh kita saja sesuai kebutuhan. Menjadi manusia dan kembali melakukan aktivitas yang bermakna dengan alam.
Share:

Minggu, April 20, 2014

Sopir

Hidup memang naik turun. Kadang di atas kadang di bawah. Itulah yang terjadi pada saya sekarang. Dulu saya tak punya pekerjaan. Semuanya saya lakoni mulai dari tukang bangunan, pedagang, pegawai pabrik, dan lain-lain. Sekarang saya nikmati pekerjaan yang lumayan lama untuk ukuran saya yang selalu bosan.

Sebelum menjalani pekerjaan sebagai sopir direktur, saya pernah menjadi sopir angkutan kota. Walaupun katanya cuma sopir tembak, tapi saya senang mengalaminya. Berawal dari belajar "nyupir" di angkutan kota inilah petualangan saya dari satu mobil ke mobil lainnya berlangsung. 

Mengemudi (driver-improvement.co.uk)
Saya coba-coba jadi sopir taksi. Saat ada lowongan untuk sebuah perusahaan taksi yang besar di kota ini, saya berhasil melewati seleksi. Dulu sangat ketat sekali, pertama saya tak boleh bertato, paham aturan lalu lintas, dan punya disiplin yang baik dalam bekerja. Dari penilaian saat magang, saya kemudian dinyatakan lolos dan masuk tahap percobaan. Setelah masa percobaan lewat dan saya pun dinilai layak untuk menjadi  karyawan tetap. 

Kehidupan saya mulai membaik. Dari yang awalnya kerja serabutan, saya punya jaminan setiap bulan gaji dan persenan kalau mampu meraih lebih dari target harian. Perusahaan taksi itu seperti dewa penolong buat saya yang membutuhkan. 

Dengan membaiknya kehidupan, saya memberanikan diri melamar pacar saya di kampung yang kelak memberi saya dua anak yang baik. Setahun kemudian kami pindah ke kota. Waktu itu anak saya masih satu, sekarang sudah dua. Saya membawa istri dan anak saya ke rumah kontrakan. Setiap hari saya bekerja sebagai sopir taksi. Istri dan anak menunggu di rumah saat pulang. Damai sekali hidup saya selama beberapa tahun lamanya. Sampailah kemudian perusahaan taksi tempat saya bekerja mengalami krisis seiring krisis negeri ini. Perampingan karyawan berarti pemutusan kerja. Saya ternyata salah satu karyawan yang terkena pemutusan hubungan kerja. 

Limbung! Tapi bersyukur. Istri saya sangat tabah. Ia banyak membantu saya melewati masa-masa sulit. Tanpa sepengetahuan saya, ia menabung hasil kerja saya. Ia selalu sisihkan uang belanja bulanan untuk menabung. Uang pesangon dari perusahaan ditambah uang tabungan, saya jadikan modal untuk membuka warung di kontrakan. Secara perlahan warung kami mulai membesar. Rumah kecil yang awalnya saya kontrak lama-lama saya beli. Setiap bulan saya nyicil ke pemilik rumah. 

Kebutuhan makin hari makin membesar. Usaha warung saja ternyata tidak cukup. Mulailah saya mencari lagi pekerjaan. Sampai seorang teman mantan sopir taksi yang dahulu bekerja satu perusahaan menghubungi saya. Ia menawarkan pekerjaan sebagai sopir perusahaan. 

Petualangan sebagai sopir perusahaan dimulai. Saya sangat menikmati peran saya sebagai sopir perusahaan. Sangat mengasyikan karena selain bekerja sebagai pengantar barang, juga mengantarkan karyawan jika ada keperluan pertemuan di luar kota, saya juga merangkap sebagai pendengar dinamika perusahaan. Oh iya, kadang Pak Direktur memakai jasa saya untuk keperluan keluarga. Jadilah saya merangkap sebagai sopir perusahaan juga sebagai sopir pribadi. Sesekali saya diharuskan untuk tidur di rumahnya, di sebuah komplek perumahan elit. Tentu saja saya ijin keluarga. Saya selalu bilang sama istri saya kalau harus tugas sampai menginap. Ia mengijinkan karena demi kebaikan keluarga.

Saya menikmati keseharian sebagai sopir. Saya selalu belajar banyak dari karyawan yang saya antar. Termasuk Pak Yudi, ia adalah karyawan bagian penjualan. Saya sering mengantar ia ke berbagai tempat untuk bertemu orang dan melakukan presentasi. Pak Yudi itu orangnya ramah, mudah bergaul, dan baik. Saya sering kebagian persenan kalau ia berhasil mendapatkan proyeknya. Pokoknya saya menghormati Pak Yudi dan juga karyawan lainnya. Mengantarkan mereka untuk kebaikan perusahaan. Perusahaan baik berarti kehidupan karyawan juga baik.
Share:

Jumat, April 18, 2014

Mandor dan Tukang Bangunan

Dikisahkan pada saat pembangunan gedung bertingkat tinggi di sebuah pesisir pantai yang sangat bising. Mandor memeriksa pekerjaannya dari atas sampai bawah. Ia harus melaporkan pekerjaan anak buahnya, para tukang kepada manajernya.

Saat ia berada di lantai 5, ia sendirian. Tak ada teman. Sebuah besi melintang menghalangi jalannya. Ia berpikir bahwa besi itu seharusnya disimpan rapi. Tak elok apalagi sampai menghalangi jalan. Ia berpikir memanggil tukang untuk merapikannya.

Seorang tukang sedang asyik di bawah. Bekerja giat dan tak pernah mengeluh. Ia sendirian dengan sendok tembok di tangannya. Ia hendak merapikan salah satu bagian dinding. Mata dan semua raganya fokus merapikan dinding. Tak pernah menengok ke kiri atau ke kanan. Hanya sesekali saja untuk memastikan pekerjaannya rapi.

Dari atas, mandor memanggilnya tetapi tukang itu tidak mendengar. Mandor terus saja memanggil dan tukang itu tetap saja tidak menoleh ke atas. Mandor kemudian mengeluarkan uang lembaran dengan nilai kecil. Jatuh tepat di samping tukang. Tukang kaget, ia melirik ke kiri dan ke kanan. Lalu diambilnya uang tersebut. 

Mandor yang melemparkan uang heran. Ia keluarkan lagi uang dengan nilai yang lebih besar. Berharap tukang bisa menoleh ke atas. Uang dilemparkannya dan jatuh persis di samping tukang. Tukang yang sedang bekerja makin senang. Ia pungut uang tersebut setelah memastikan tidak ada orang di kiri dan kanannya. Ia takut kalau terjadi keributan karena berebut uang yang tergeletak tersebut. Setelah diambil, ia kembali asyik bekerja.

Mandor makin heran. Setengah marah kepada tukang tersebut yang tidak melihat ke atas, ia ambil batu kerikil. Dengan perhitungan yang tepat, ia lemparkan batu kerikil tersebut tepat mengenai kepala si tukang yang sedang asyik bekerja di bawah.

Kaget bukan main! Tukang yang sedang asyik bekerja kemudian menoleh ke atas. Melihat ke sumber batu kerikil itu jatuh. Dilihatnya mandor yang ia hormati. Ia pun kemudian meminta maaf karena tidak melihat ke atas. Keasyikan bekerja sampai lupa melihat ke atas. Ia lupa melihat darimana datangnya uangnya jatuh. Alih-alih melihat ke atas, ia lebih suka melihat kiri dan kanan berharap tidak ada tukang lain di sampingnya.

Tukang pun meminta maaf dan mengembalikan uang yang ia temukan saat bekerja karena ia tahu itu bukan uangnya. Mandor baik hati. Ia tetap memberikan uang tersebut untuk kebutuhannya. Ia hanya berpesan "Lihatlah ke semua arah. Jangan lupakan di atas kita!"

Mandor dan Tukang Bangunan, siapakah kita? (Iden Wildensyah)
Share:

Kamis, April 17, 2014

Solpatu

"Solpatuuuuu!" Demikian saya memasarkan jasa. Saya adalah tukang sol sepatu. Nama saya Dedi tapi orang-orang lebih suka memanggil saya Ujang. Mungkin karena usia saya yang masih kecil, orang sunda memanggil anak kecil dengan "Jang, ujang". Tak apa, saya senang dipanggil ujang. Rasanya sangat akrab kalau ada orang panggil saya ujang. Mulai dari para pedagang di stasiun, kernet elf, kernet angkot di terminal semuanya memanggil saya, ujang.

                            Sepatu (www.deviantart.com)
Awalnya saya nongkrong di statsiun kota. Saya menawarkan jasa semir sepatu. Lama kelamaan pengguna jasa semir sepatunya berkurang. Mungkin orang sudah jarang memakai sepatu kulit seperti yang dulu pernah trend. Bergantilah saya menjadi tukan sol sepatu. 

Bapak saya mewarisi keahliannya. Lewat bapak, saya belajar menjahit dasar sepatu yang terlepas. Dari yang kecil-kecil dan mudah lalu saya beranjak ke sepatu yang agak rumit. Rumit dalam arti solnya kuat dan butuh tenaga lebih untuk menusukkan jarumnya. Bersyukur, serumit-rumitnya saya masih bisa menyelesaikan. Jikapun tidak, saya bawa pulang ke rumah kemudian saya kerjakan di rumah saat tenang. Yah, pekerjaan ini juga butuh ketenangan. Saya tak bisa terburu-buru. Jarum, benang, dan karet sepatu adalah benda yang berbahaya. Seandainya salah menekan bisa merobek kulit sepatu atau malah kulit tangan saya yang kena tusukan jarumnya.

Setiap hari saya berkeliling komplek. Dari satu komplek perumahan ke komplek perumahan lainnya. Berharap ada penghuni yang menggunakan jasa saya. Tak pernah mengeluh, saya jalani hari selalu dengan pengharapan yang lebih baik kepada Tuhan. Selalu berpikir positif kepada Tuhan bahwa rejeki akan datang kepada saya. Iya, saya punya alasan. Saya bekerja untuk orang lain. Saya bekerja dan memberikan jasa agar orang lain bisa nyaman lagi bersepatu. Setelah nyaman bersepatu, mereka bisa bekerja dengan tenang. Bisa mencari rejeki yang banyak untuk anak istri mereka. Hakekatnya seperti bekerja untuk diri sendiri, ternyata saya bekerja juga untuk kebaikan orang lain.

Saya senang menjalani keseharian ini. Demikian juga hal dengan seorang teman saya yang saya temui di komplek perumahan. Namanya Dadan, ia adalah sopir pribadi seorang direktur. Saya kenal karena ia pernah menggunakan jasa saya untuk memperbaiki sepatu majikannya. Sepatu Dadan pun pernah saya sol. Ia begitu menikmati hari-hari sebagai sopir pribadi.

Share:

Kamis, April 10, 2014

Rumput Kehidupan

Jika saja semua orang pernah merasakan kegiatan menyabuti rumput, saya yakin mereka akan tahu begitu bergunanya sebatang rumput. Walaupun letaknya ada di bawah, kadang terinjak, tumbuh tak diharapkan, tetapi rumput sudah memberikan banyak kehidupan buat mahluk lainnya. Manusia salah satunya mahluk yang diuntungkan oleh rumput.

Secara tidak langsung, rumput mampu menahan air, menyerap air yang tergenang di atasnya. Rumput juga membuat pemandangan sekitarnya menjadi indah, hijau dan sedap dipandang mata. Rumput banyak jenisnya. Ada rumput liar dan ada juga rumput taman yang sengaja ditanam. Harganya variatif mulai dari yang termurah sampai yang mahal. Rumput-rumput tersebut ada yang secara khusus didatangkan dari berbagai belahan dunia untuk ditanam. Rumput hias adalah rumput yang selalu dicari oleh penyuka taman.

Wah, banyak sekali kalau bicara rumput. Buat saya, rumput bukan sekedar rumput. Rumput itu kehidupan saya. Adanya rumput membuat saya bisa menghidupi diri saya juga keluarga kecil saya. Tak terbayangkan sebelumnya menjalani keseharian sebagai tukang rumput. Dulu saya bekerja di kebun tetapi panggilan dari salah satu orang di rumah yang besar untuk mengurusi rumput membalikkan semuanya. Saya mulai menerima orderan untuk menata taman, mencabuti rumput, menanam bunga-bunga yang baru. Semakin hari, semakin banyak pesanan. Akhirnya saya total menjalani hari-hari sebagai tukang rumput.


Awalnya peralatan sederhana yang saya bawa, semacam parang, gunting rumput, dan cangkul. Setelah ada pemotong rumput yang digerakkan mesin, mulai saya gunakan mesin potong rumput. Saya tempel di sepeda motor tua, vespa. Sepeda motor itu yang setia mengantar saya ke berbagai tempat untuk memotong rumput.

Setiap pagi, saya pergi berkeliling komplek dari satu rumah ke rumah lainnya untuk memotong rumput. Saat berkeliling, saya sering berpapasan dengan seorang teman saya yang juga berkeliling komplek. Bedanya ia membawa peralatan sol sepatu. Saya panggil ia, Ujang. Saya gak tahu namanya tapi orang sunda memanggil orang yang usianya lebih muda bahkan terlihat masih kecil dengan panggilan Ujang.

Rumput Kehidupan (Iden Wildensyah)
Share:

Pagi Baru

Pagi ini adalah pagi baru yang akan ku jalani bersama anak-anak hebat di kelas. Selalu aku katakan sebagai hari baru kepada anak-anak. Aku coba tanamkan ini sebagai bahan untuk selalu mencari hal-hal baru pada anak-anak. Setiap pagi, ku kayuh sepeda melewati jalan raya dan beberapa toko yang ada di kota kecil ini. Sisanya melewati jalur kampung yang harus meminggir jika pengendara motor lewat. Maklum, sebuah gang bukan sekedar jalan saja tetapi juga jalur umum untuk mereka yang memiliki motor. Aku, masih setia dengan sepeda ini. Pagi baru ini aku bersiap untuk pergi menemui keceriaan dan kegembiraan anak-anak.

Pagi baru berarti aku bertemu Mahmud, seorang anak yang selalu berpikir positif jika teman-temannya menjahili. Mahmud tidak pernah sekalipun membalas temannya yang jahil pada dia. Dia seolah mengerti bagaimana temannya sedang berproses mengenali diri dan situasi saat berinteraksi dengan sesamanya. Mahmud suka bermain bola, ketangkasannya bermain membuat teman-temannya berebut untuk menjadi bagian kelompoknya.
Rumah Pohon (deviantart.com)

Suatu hari Mahmud datang padaku “Kak, punya ide untuk membuat pesawat luar angkasa”. Mahmud kemudian menceritakan sebuah gagasan-gagasannya yang luar biasa. Aku sesekali menanggapinya untuk mengapresiasi ide yang dia miliki. Gagasan ini bukan sekali dua kali dia sampaikan padaku, pernah satu kali waktu dia bercerita tentang kisah nabi-nabi yang menurut dia sangat menarik karena ada peperangannya.

Pagi baru berarti aku bertema Dani, seorang anak yang penuh cerita lucu. Dani senang melucu di antara teman-temannya. Dani sangat senang ketika teman-temannya tertawa oleh tingkah lucunya. Dani juga suka bercerita tentang proses mendapatkan kisah-kisah lucunya. Selain dari pengalamannya saat bermain di rumahnya, Dani juga mendapatkan kisah lucu tersebut dari buku-buku homur yang dibelikan bapaknya. Bapak Dani sangat mengerti bagaimana anaknya sangat menyukai kisah-kisah lucu.

Kisah lucunya tersebut mulai dari banyolan, cerita orang lain, juga dari tebak-tebakan yang spontan akan memancing tawa seluruh kelas. Suatu hari Dani cerita tentang seorang kakek dan nenek yang baru saja pulang dari dokter. Kakek kebingungan dengan secarik kertas yang diberikan oleh dokter. Kertas tersebut harusnya dibawa ke apotek untuk mendapatkan obat, tetapi karena ketidaktahuan si kakek akhirnya dibawa pulang saja. Di rumah, si nenek menjawab kebingungan si kakek. Nenek bilang “Masukan saja kertasnya ke gelas tambahkan air, mungkin itu jampi-jampi”. Gerrrrrrr semua anak tertawa, mereka melihat sebagai sesuatu yang lucu karena kakek dan nenek tidak mengenal resep dokter, yang mereka ketahui hanya jampi-jampi.

Pagi baru juga berari bertemu Darojat atau biasa dipanggil Ojat oleh teman-temannya. Ojat adalah anak yang cekatan. Ojat paling cepat kalau sudah berkarya, begitu juga saat beres-beres kelas. Sering kali Ojat diminta oleh teman-temannya untuk membantu membereskan sisa berkaryanya. Ojat sangat senang membantu teman-temannya. Kesenangan Ojat membantu temannya itu membuat Ojat banyak teman. Bahkan anak-anak lain yang beda kelas juga sangat senang dengan Ojat. Ojat tidak pernah mengeluh walau pekerjaannya banyak. Inilah yang membuat Ojat disenangi teman-temannya.

Ojat suatu kali pernah meminta ijin untuk tidak masuk sekolah karena harus membantu pamannya panen padi di sawah. Pamannya sangat senang karena Ojat mau belajar bertani, menanam padi, dan juga memanen. Saat itu kebetulan pamannya hendak memanen padi. Ojat tidak mau kehilangan kesempatan belajar. “Kak, aku ijin gak masuk besok yah, paman mau panen dan aku ingin belajar memanen padi”. Begitu kata Ojat sebelum pulang. Aku katakan, “Wah sangat menarik, Jat. Kalau sempat nanti cerita sama teman-temannya, yah”. Benar saja, keesokan harinya, Ojat bercerita dengan antusias bagaimana dia memanen padi, walau cape tetapi banyak hal yang menyenangkan.

Pagi baru berarti aku bertemu Darsa, seorang anak pendiam yang selalu berpikir. Aku katakan demikian karena Darsa nyaris tidak suka berbicara. Darsa lebih banyak diam ketika teman-temannya saling bercanda, bercerita, dan diskusi. Walaupun diam tetapi Darsa menyerap semua informasi yang masuk pada dirinya. Darsa hanya berbicara sesekali saja misalnya ketika dipancing pertanyaan “Menurut Darsa, bagaimana yah pembagian matematika dalam kehidupan kita?”. Darsa menjawab dengan meyakinkan, “Banyak kak, misalnya pada saat membagi kue, membagi permen, membagi pekerjaan, membagi uang. Kan pembagian bukan hanya soal angka-angka”. Darsa memang benar-benar mantap. Dia bisa melihat banyak sudut yang biasanya tidak terjangkau anak-anak seusianya.

Darsa lebih menyukai membaca buku yang dibawanya atau pergi ke perpustakaan untuk mengisi istirahatnya dibandingkan main dengan teman-temannya. Ketika kutanyakan, Darsa menjawab “Ah kak, aku senang membaca saja, kan buku bisa membawa aku ke berbagai tempat menarik di dunia”. Wooow... jawaban yang sangat menarik bagiku. Darsa memang hebat, dan setiap pagi aku harus bersiap dengan informasi baru yang ia dapatkan dari buku yang sudah ia baca.

Pagi baru berarti aku bertema sosok mungil penuh keceriaan, dia adalah Nurmelina. Teman-temannya biasa memanggil Nina. Nina adalah sosok yang menggembirakan teman-temannya. Nina selalu ceria, keceriannya terpancar dari tingkahnya yang energik, lincah, dan selalu tersenyum. Nina juga suka bercerita terutama cerita tentang pahlawan nasional. Nina terinpirasi oleh sosok Tjoet Nyak Dien. Nina mengatakan bahwa Tjoet Nyak Dien adalah perempuan hebat yang berani melawan penjajah. Walaupun penjajah menggunakan senjata api, tetapi Tjoet Nyak Dien tidak takut. Tjoet Nyak Dien berjuang sampai titik darah penghabisan. Aku pernah menanyakan pada dia, “Kalau sekarang kan tidak perang, berarti Nina mengambil pelajaran dari kisah Tjoet Nyak Diennya, seperti apa?”. Nina berkata “Aku harus belajar sungguh-sungguh, Kak. Seperti Tjoet Nyak Dien yang berjuang teguh melawan penjajah, aku juga harus semangat berjuang agar aku bisa belajar semakin baik”.

Pagi baru berarti aku juga bertemu dengan Dodo, anak yang katanya bodoh dan nakal. Aku tidak katakan demikian, Dodo adalah anak yang memiliki potensi besar untuk menjadi atlet. Dodo berbadan besar di antara teman-temannya. Dodo senang kegiatan olah raga, sepertinya Dodo hanya menyukai kegiatan olah raga saja. Dodo seperti malas-malasan kalau sudah kegiatan matematika. Dodo merasa dirinya tidak bisa menghitung. Tetapi bagiku tidak, Dodo sebenarnya pandai matematika, Dodo bisa menyerap dengan baik setiap pelajaran matematika. Sayangnya, Dodo tidak cukup sabar untuk mengerjakan soal-soal matematika.

Pernah satu kali waktu, Dodo seperti marah-marah. Dia mendatangiku dan berkata “Kak, aku tidak suka matematika, aku tidak suka soal ini, soal ini membuatku frustasi!”. Teman-teman kaget dan seketika langsung tegang, Dodo yang berbadan besar sedang marah-marah. Aku coba dekati, aku ajak Dodo diskusi. Sampai akhirnya Dodo berkata “Kak, ternyata mudah, yah!”. Senang rasanya hatiku melihat Dodo mau kembali terlibat dalam kelas. Biasanya Dodo selalu menarik diri untuk pergi dari lingkaran kelompok belajar di kelasnya jika dia merasa sudah tidak mampu untuk menyelesaikan soal-soal yang ada dihadapannya.

Pagi baru berarti aku juga bertemu Maesaroh. Teman-temannya memanggil dia Mae. Dia adalah anak rajin yang selalu rapi. Setiap kali Mae datang, temannya langsung mengerebungi untuk bermain congkak atau bola bekel. Mae bisa adil mengatur teman-temannya hingga mereka menjadi asik bermain. Mae bisa dikatakan sangat perhatian sama temannya, jika ada temannya yang tidak masuk sekolah, Mae biasanya menjenguk kemudian menceritakan pada teman-temannya. Mae juga menginisiasi teman-temannya untuk berkunjung ke temannya yang sakit. Kehadiran Mae membuat temannyas senang. Jika ada temannya yang bertengkar, Mae bisa melerai dan menyelesaikannya dengan baik. Setelah itu mereka bermain lagi dengan asik. Mae suka semua pelajaran, Mae ingin menjadi guru suatu hari nanti. Mae mengatakan bahwa Guru bisa mencerdaskan generasi bangsa. Mencerdaskan bangsa berarti mencerdaskan kehidupan. Dan inilah  kehidupan bagiku, seperti kata Mae yang selalu bijaksana dalam mengatur teman-temannya.

Pagi baru bagiku penuh dengan dinamika, pertanyaan-pertanyaan menarik dari anak-anak, ide-ide baru, keingintahuan baru, dan suasana baru yang akan menghiasi kehidupan. Inilah hari baru saat aku akan bertemu anak-anak hebat yang saling menginspirasi. Inilah generasi-generasi yang harus ku antarkan pada pengalaman-pengalaman belajar yang menyenangkan. Inilah pagi baru saat aku harus pergi.
Share:

Selasa, April 08, 2014

Sate Spesial

"Teee... Sateeeee!" Begitulah teriakan khas saya. Teriakan yang juga sama-sama dilontarkan oleh para pedagang sate dari Madura ini. Sekarang sih sudah saya tambah dengan bunyi gemerincing lonceng kuningan. Perlahan akan saya ganti teriakannya dengan gemerincing ini.

Setiap malam saya berkeliling dari satu komplek perumahan ke komplek perumahan lainnya. Ada yang sudah langganan tetapi banyak juga yang baru. Nah buat yang baru, saya biasanya senang. Para pelanggan saya selain keluarga di komplek perumahan juga keluarga di gang-gang kecil. Oh iya, tak lupa para mahasiswa dan mahasiswi yang kost di sekitaran kampus. Awal bulan saat mereka menerima kiriman uang biasanya makan sate. 

Sate yang saya jual paling banyak sate ayam. Selain ketersediaan ayamnya banyak juga pesanan paling diminati. Tentu saja harganya juga jadi lebih murah dibandingkan dengan sate kambing. Saya juga jual sate kambing walaupun stoknya tidak sebanyak ayam. Saya sediakan buat persiapan jika sesekali ada yang ingin sate kambing.

Syukur buat saya jika malam terang benderang dan cerah. Biasanya banyak warga yang begadang dan berkumpul. Mereka kadang makan-makan bersama di pos. Jika kebetulan saya yang lewat malam itu, bisa saja rejeki malam itu besar buat saya. Apalagi kalau sudah ada yang pesan lewat telepon, sms atau memberi kabar sebelumnya untuk lewat gang yang dimaksud, senang rasanya. Sudah malam cerah, dapat order banyak pula. Saya bisa menabung keesokan harinya dari hasil malam itu.

Malam hujan pun tetap saya jalani keseharian saya. Walaupun harus menahan dingin tetapi saya tetap laksanakan sepenuh hati menjemput rejeki. Saya tak bisa membayangkan bekerja siang hari. Seperti Pak Juju yang menjadi tukang potong rumput. Ia bilang kepada saya sebagai ahli taman.
Sate Ayam dan Sate Kambing itu enak (iden wildensyah)
Share:

Senin, April 07, 2014

Parkir Nyaman

Tak pernah terbayang sebelumnya bahwa saya harus berada di tempat ini. Pelataran toko yang menjual alat musik. Dulu saya bercita-cita menjadi pemain sepakbola. Waktu kecil di kampung, saya bermain sangat lincah bahkan beberapa guru SD menjuluki saya si Maradona.

Pergi ke kota awalnya diajak teman berjualan. Tapi karena tidak punya bakat menjual, rasanya jualan saya tak laku-laku. Lalu menjadi kuli bangunan, rasanya cape. Perkenalan dengan remaja-remaja kota yang sering nongkrong membawa saya ke tempat ini.

Mulailah saya mengikuti gaya mereka. Bergerombol mengikuti acara musik dari satu tempat ke tempat lain. Gaya-gaya berpakaian saya tiru sedemikian rupa. Termasuk tato, ya, tato. Saya punya tato di beberapa bagian tubuh. Tanganlah yang paling banyak. Saya menyukainya karena senang berada dalam lingkungan yang bertato juga. Dulu tak pernah punya bayangan akan memiliki tato. Bahkan kalau saya balik ke kampung, tato ini membuat beberapa teman lama saya jadi bergidik. Saya dianggap menjadi manusia bebas alias preman. Bukan, saya bukan preman sekarang. Saya menjalani keseharian sebagai tukang parkir.

Sampai memilih dan menyenangi berada di tempat ini, panjang ceritanya. Sekarang saya sudah menikah dan memiliki satu anak laki-laki. Untuk
Membiayai kontrakan rumah dan menghidupi keluarga, saya harus bekerja. Sayangnya pekerjaan yang saya idamkan tidak mungkin saya dapatkan. Jadilah saya nikmati keseharian di sini.

Setiap hari setelah mengantar anak sekolah, saya menuju pelataran toko ini untuk mengatur parkir. Tempat parkirnya tidak begitu luas tapi cukup menampung 10 mobil. Jika satu mobil Rp 2.000,-  berarti saya mendapat Rp 20.000,- dalam satu sampai dua jam. Sisanya yang lima menitan. Sehari saya bisa membawa ke rumah bersih Rp 100.000 -  250.000,- bahkan bisa lebih kalau sudah banyak yang parkir. Terutama pada akhir minggu saat banyak pengunjung.

Saya mengatur sedemikian rupa agar mobil biasa parkir dengan teratur dan rapi. Menjadi kepuasan tersendiri jika banyak mobil yang parkir dengan rapi dan tanpa keluhan sedikitpun baik dari pengendara maupun dari pedagang yang ada di sana. Oh iya, mereka sudah saya anggap teman-teman sendiri. Gak pernah ada yang mengganggu mereka. Kalau ada, saya hadapi saja. Kasihan kalau tidak ada yang membela. Apalagi pedagang di sini sudah tua-tua.

Di pelataran toko musik sebelah toko baju, ada seorang penjahit. Lebih tepatnya dia menerima jasa vermak jeans. Menunggu dari dalam pembeli yang ukuran celana jeansnya kepanjangan. Ia bantu agar sesuai dengan keinginan pembeli. Namanya Kang Maman. Seusia saya dan selalu jadi teman mengobrol yang menyenangkan. Ia suka bola, kalau sudah bicara team kesayangannya, ia bisa berbusa-busa.
Share:

Minggu, April 06, 2014

Balincong

Alat ini setia menemani saya sehari-hari. Selain balincong, saya juga membawa satu rancatan dan dua tanggungannya. Dua alat ini menjadi wajib bagi pekerja seperti saya. Balincong untuk menggali dan tanggungan untuk membawa galian tanahnya ke sisi yang lain.

Pekerjaan menggali tanah sudah lama saya tekuni. Saya Udin dari kampung yang jauh jaraknya dari kota ini. Setiap hari saya mangkal di depan kantor wilayah. Menunggu orang yang butuh jasa penggali tanah. Mereka adalah adalah para kontraktor yang sedang membangun rumah, gedung, dan lain-lain. Sekarang mulai baru walaupun tidak baru-baru banget, kontraktor untuk saluran telekomunikasi. Mereka menanam kabel di bawah tanah sepanjang jalan. 

Rejeki buat saya jika ada kontraktor seperti itu. Apalagi galiannya panjang, bisa berhari-hari bahkan bisa berbulan-bulan. Rupa-rupa kabel mulai dari ukuran sampai warnanya. Ada kabel yang satuan, ada kabel kecil-kecil yang dibungkus jadi besar. Menarik bersama-sama setelah mendapatkan lubang galiannya.

Selain para kontraktor, ada juga yang menggunakan jasa tukang gali untuk keperluan rumah tangga seperti membuat galian sumur, galian saluran air, galian pondasi baru, dan galian untuk tanah. 

Kalau sedang bekerja di rumah, kadang saya ingat anak-anak di kampung. Mereka masih kecil-kecil. Sekarang tinggal sama ibunya. Sekali dalam sebulan saya pulang ke kampung. Menengok anak dan istri juga sawah. Yah, saya punya sawah. Pergi ke kota itu mengisi waktu setelah sawah beres saya tanami. Giliran mau panen, saya pasti pulang dulu untuk memanen padi yang sudah menguning.

Aneh rasanya jika tinggal terlalu lama di kampung. Sepi, saya lebih suka mangkal sebagai tukang gali. Walaupun meninggalkan anak dan istri di kampung tapi ada perasaan puas karena saya bisa menafkahi mereka dari hasil menggali di kota. Mereka tak keberatan karena saya penuhi kebutuhan sehari-harinya. Kalaupun kehabisan uang, mereka tinggal nganjuk (ngutang) di warung kemudian dibayar saat saya pulang.

Demikian halnya dengan saya di sini. Jika tidak ada uang karena belum dapat pekerjaan, saya nganjuk saja. Pemilik warung sudah biasa. Mereka tahu dan percaya bahwa saya akan membayar setelah mendapat bayaran dari pekerjaan menggali tanah.

Buat saya, menggali tanah sudah jadi keseharian saya dalam hidup ini. Saya tak pernah mengeluh saat ada pekerjaan atau belum mendapat pekerjaan. Saya tahu Tuhan Maha Adil. Ia akan selalu memberi rejekiNya selama kita berusaha. Saat mendapat pekerjaan, saya bersyukur demikian juga saat saya harus menunggu, saya tetap bersyukur.

Saat menunggu, saya bisa bercengkrama dengan teman-teman dari kampung dan juga mereka yang bekerja di bidang yang lain seperti berdagang. Sering banyak pedagang lewat tempat mangkal saya. Misalnya Mang Ihin yang jualan bandros, dan Mas Narno yang jualan tahu gejrot. 
Kampung halaman (iden wildensyah, 2014)
Share:

Jumat, April 04, 2014

Bandros Mang Ihin

Senang rasanya saat mendengar Banderos menjadi salah satu ikon kota Bandung. Bagaimana tidak, banderos atau bandros adalah jajanan yang saya jual setiap hari. Oh iya, nama saya Ihin, anak-anak memanggil saya Mang Ihin. Terutama anak-anak SD tempat saya nongkrong sudah mengenal saya dengan sebutan Mang Ihin.

Bandros 
Masih sederhana, saya menggunakan dua tanggungan yang dipanggul dengan rancatan. Masih menggunakan kompor dengan arang untuk membuat bandros.

Pagi-pagi sekali saya mencari bahan-bahan untuk membuat bandros ke pasar. Saya bertemu banyak orang, ada yang membeli sayuran, makanan, dan berbagai macam barang segar di warung. Bandros merupakan salah satu jajanan yang banyak ditemui di daerah Jawa Barat. Saya jualan bandros juga turun temurun dari kakek dan ayah. Dulu mereka jualan dan sekarang giliran saya.

Membuat bandros itu tidak sulit, walaupun pada awalnya saya mencoba, rasanya selalu ada yang kurang. Cara membuatnya adalah dengan mencampur kelapa parut, tepung beras dan garam, lalu tuang santan sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga tercampur rata. Setelah itu panaskan cetakkan bandros, olesi dengan sedikit minyak, tuang adonan ke dalam cetakan hingga penuh, kemudian tutup.

Oh iya, nih saya beri resepnya 3/4 sdm garam halus, 2 sdm minyak goreng untuk olesan, 30 gram gula pasir (untuk taburan saat penyajian), 650 ml santan kelapa, 250 gram tepung beras, 100 gram kelapa parut. Kelapa parut ini diperas sedikit.

Nah setelah itu baru panggang di atas bara api kecil hingga matang dan di kedua sisinya garing, angkat. Bandro siap saya jual kepada pembeli di perumahan atau di sekolah-sekolah dasar tempat biasa saya nangkring.

Saya berangkat setiap jam 8 pagi. Menjelang anak-anak istirahat yaitu pukul 9.00 sampai 10.00. bahkan saya bisa menunggu sampai pukul 13.00 berharap masih ada yang mau membeli menjelang mereka pulang ke rumah.

Setelah sekolahan bubar, saya berjualan di perumahan. Melewati gang-gang kecil lalu tunggu sebentar. Di lapangan atau bersyukur jika ada keramaian, saya bisa lama nongkrongnya. Keramaian yang memancing banyak orang berdatangan bisa menjadi rejeki buat saya. Paling tidak saya bisa menjual banyak di saat-saat seperti itu.

Saya senang menjalani keseharian ini. Buat saya, menjual bandros itu bukan hanya usaha tetapi lebih dari itu, saya melestarikan makanan lokal. Yah, makanan lokal tersebut sekarang tergerus oleh makanan-makanan dari luar. Anak-anak sepertinya mulai meninggalkan makanan tradisional karena menganggap kuno dan ketinggalan jaman. Tapi saya masih yakin, ada banyak orang yang tetap menginginkan bernostalgia dengan makanan seperti bandros yang saya jual ini.


Salah satu orang yang selalu menjadi langganan saya adalah Mang Udin. Ia sering nongkrong dekat kantor wilayah. Ia dan temannya seperti rindu masa kecil, rindu kampung halamannya kalau sedang mencicipi bandros saya. Mang Udin adalah buruh tukang gali yang sudah lama menjalani profesinya.
Share:

Minggu, Mei 26, 2013

Guru (juga) Manusia

Seorang guru memiliki peran penting dalam kehidupan seorang manusia. Jangan jauh-jauh kepada kemajuan bangsa seperti yang dilakukan oleh Jepang kepada guru-gurunya. Saat di bom atom tahun 1945, kaisar menanyakan berapa guru yang masih hidup, membuktikan guru sangat besar bagi bangsa Jepang. 
Selain orangtua sebagai peletak dasar kehidupan, guru juga menjadi bagian utuh sebagai referensi anak untuk menghadapi dunia nyata. Bukan menghadapi, lebih tepatnya memberi makna pada kehidupannya kelak di masa yang akan datang saat anak dewasa.
Guru mengajarkan kehidupan melalui banyak cara, melalui materi pelajaran juga melalui pengalaman-pengalaman yang menyenangkan.
Memberi pondasi dasar yang baik dengan pengalaman belajar yang menyenangkan, akan memberikan banyak makna menarik bagi seorang anak. Idealnya guru adalah sosok yang harus bisa menggambarkan kehidupan baik bagi anak didiknya. Melalui perilaku yang baik, sikap yang baik, serta karakter yang baik pula. Karakter bisa muncul melalui kebiasaan-kebiasaan baik yang terus ditanam setiap hari. Ingat saja "benih kebaikan akan menghasilkan buah kebaikan". Sebuah benih walaupun kecil tetapi punya pengaruh besar dikemudian hari.
Guru juga manusia, terkadang mengalami masa sulit dalam menjalani kehidupannya. Persis seperti kehidupan yang selalu pasang surut, pun dengan seorang guru. Dia sosok yang tetap manusia. Bukan malaikat yang bersih selamanya. Ada saat guru mengalami kesalahan. Misalnya salah mengoreksi soal, salah memberi soal, salah menilai, dan masih banyak lagi.
Selama kita menyadari hal itu sebagai hal yang manusiawi, maka jalannya kehidupan akan ringan. Guru tetap manusiawi dalam mengerjakan semua kewajibannya tanpa merasa berdosa saat mengalami kesalahan. Anggap saja sebagai kehidupan yang naik turun. Kesalahan sedikit bukan sebuah hal yang akan menghancurkan cita-cita dan harapan besarnya pada perkembangan seorang anak didik.
Tetap berpikir positif saat mengalami kesalahan adalah jalan terbaik untuk siapa saja baik itu guru maupun anak didik. Saat salah, akui dan segera perbaiki. Ini akan ringan dibanding 'blaming' ke banyak pihak.
Cari sisi-sisi lainnya saat kita salah, pasti ada pelajaran penting dibalik kesalahan yang sudah dibuat.
Guru juga manusia, bertindak dan bersikap manusiawi saja!
Ingatlah selalu setiap benih kebaikan akan menghasilkan buah kebaikan. Maka, hal-hal yang akan merusak kebaikan harus kita singkirkan. Termasuk bibit-bibit yang akan merusak buah di masa yang akan datang.
Share:

Postingan Populer