Ruang Sederhana Berbagi

Tampilkan postingan dengan label Belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar. Tampilkan semua postingan

Selasa, Mei 09, 2017

Pindah Karena Harus Belajar

Pindah Karena Harus Belajar


Pendidikan menjadi salah satu bagian penting dalam hidup ini. Orang dewasa mendidik anak-anak. Orang tua mendidik orang dewasa. Anak-anak mendidik orang tua. Demikian seterusnya sampai lingkaran ini utuh karena semuanya saling mendidik.


Pelajaran utama dari pendidikan ini terjadi karena manusia dilahirkan sebagai mahluk pembelajar. Ia harus belajar sepanjang hayat. Jika ia berhenti belajar, maka ia sedang berusaha menjauhi sisi-sisi kemanusiaannya. Manusia yang berhenti belajar akan digerus jaman. 


Pilihannya adalah belajar dan terus belajar. Nah, sebagai pilihan belajar ini, saya mengambil celah untuk memindahkan diri ke www.iden.web.id sebagai lahan baru untuk menempa diri. 


Tempat baru dan pengalaman baru. Pengalaman ini adalah bentuk pembelajaran baru buat saya sebagai pribadi. 


Belajar dari hal-hal baru yang ditemui dimanapun bersama www.iden.web.id 

Share:

Jumat, Maret 24, 2017

Ini Alasan Kenapa Jalan-Jalan Itu Baik

Jika perkembangan profesi sekarang semakin pesat dan banyak yang tidak terduga sebelumnya, maka traveler menjadi salah satu profesi yang bisa masuk dalam kategori tersebut.
Tidak sedikit yang bangga untuk menuliskan profesinya sebagai traveler. Aktor Nicholas Saputra misalnya, ia dengan bangga menyebut dirinya sebagai fulltime traveler. Lalu Trinity Traveler yang sudah menempelkan traveler dalam namanya. 
Dalam jajaran blogger, travel blogger semakin banyak. Blogger yang mengkhususkan diri pada kegiatan traveling, penjelajahan, dan jalan-jalan lainnya. Kekhususan dalam tema tulisan yang diangkat dalam blognya seringkali menjadi referensi para traveler lainnya sebelum berangkat menuju tempat tujuan baik di dalam negeri atau di luar negeri.
Pendidikan! Ah iya, tidak sedikit juga para traveler yang menjadikan pendidikan sebagai pokok utama perjalanannya. Bukan sekadar jalan-jalan saja tetapi juga membawa misi pendidikan. Sebut saja sebuah akun @1000_guru yang tagline-nya traveling and teaching. Pegiat komunitasnya sudah tersebar banyak di berbagai kota di Indonesia. Ini bentuk alternatif baru membangun kepedulian pendidikan kepada anak muda lewat cara-cara yang fun, menarik, medsos center. Belum ada ukuran berhasil atau tidak tapi untuk sebuah semangat layak untuk diapresiasi.

Jalan-Jalan Untuk Guru
Sebenarnya kalau disebut mendobrak sistem, enggak juga. Jalan-jalan adalah sesuatu yang biasa saja. Sudah dilakukan sejak lama oleh para pegiat pendidikan di jaman dahulu kala. Mereka bepergian ke sebuah daerah untuk mencari ilmu, mendapatkan pengalaman langsung dari guru di daerah yang dimaksud. Misalnya ketika mereka ingin belajar tentang pertanian, langsung menuju tempat pertanian dan belajar langsung selama sekian waktu. Menyelami proses belajar bertani dengan terjun langsung di lapangan. Merasakan keseharian petani kemudian setelah pengalamannya memadai ia akan pulang lalu mengaplikasikan pengalaman belajarnya.
Banyak pengalaman yang menarik selama proses jalan-jalan berlangsung. Proses mengenal diri sendiri, lingkungan baru, dan hal-hal yang bisa membukakan wacana sebelumnya. Terutama jika sudah terkukung oleh paradigma sendiri, jalan-jalan menjadi celah masuk untuk melihat ada yang lain di luar sana. Misalnya metode pendekatan belajar yang baru, ilmu-ilmu baru, dan hal-hal lain yang bisa diaplikasikan di dalam kelasnya. 
Khusus untuk kegiatan bertajuk fieldtrip, outing, study ekskursi, karya wisata, wisata edukasi, dan nama-nama lainnya menjadi sangat positif jika mampu diarahkan dengan baik tidak sekadar kegiatan rutin tahunan menghabiskan anggaran atau lebih parah lagi dijadikan ajang bisnis oleh sekolah untuk menarik uang dari orangtua siswa.
Semangat jalan-jalan guru akan menjadi inspirasi buat anak didiknya ketika ia mampu mengemas kegiatan tersebut sebagai pembelajaran. Siswa menyerap proses yang berlangsung dalam diri gurunya lewat cerita perjalanan yang disampaikan pada waktu-waktu tertentu. 
Selain semangat yang bisa mengalir kepada anak didiknya, jalan-jalan juga membuat semangat bekerja semakin baik. Guru akan terlepas dari rasa bosan, penat, dan stress karena tekanan mengajar dan rutinitas sehari-hari. 
Cerita perjalanan saya ada juga di https://steller.co/idenide

Jalan Jalan Untuk Siswa
Mari kita bedah dari sisi siswa yang turut serta dalam kegiatan yang dirancang oleh gurunya atau secara mandiri atau bersama-sama antara guru dan siswa. 
Dalam sisi pembelajaran, semua kegiatan ke luar ruangan selalu banyak sisi yang menarik untuk dikaji. Terutama mengaitkan teori dan praktik. Yang paling menarik misalnya sains, ilmu kebumian, dan ilmu sosial. 
Ilmu yang berhubungan bumi tentu sangat menarik jika siswa langsung melihat dan merasakan bentuk konkrit teori dalam buku. Misalnya melihat jenis-jenis batuan, fenomena alam, kenampakan alam, dan lain-lain. Antusiasme mereka berbeda ketika mendengarkan teori di dalam kelas dengan melihat langsung. Guru bahkan tidak harus memberikan banyak ceramah, cukup memberikan stimulan sebelumnya kemudian biarkan siswa yang menyerap proses pengalaman tersebut di lapangan. 
Jalan-jalan buat siswa juga menjadi media untuk belajar mengambil jeda dari rutinitas keseharian. Memberikan pengalaman untuk membuat mereka tetap bersemangat menjalani rutinitas. Siswa yang sehari-hari bergiat dengan teks-teks buku pelajaran butuh ruang baru untuk melihat dan merasakan suasana baru yang berbeda dari keseharian yang mereka lalui.
Inspirasi jalan-jalan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi akan menjadi pembelajaran seumur hidup buat mereka terutama ketika mereka harus beradaptasi dengan lingkungan baru, suasana baru, kegiatan baru, dan hal-hal baru lainnya yang kelak akan mereka temukan dalam kehidupan yang akan datang. 
Cerita perjalanan mereka bisa menjadi sebuah hal yang menarik dan menginspirasi jika guru mampu mengemas sebuah perjalanan sebagai pendekatan baru dalam mendidik. Tidak usah jauh dari lingkungan sekolah, di lingkungan terdekatpun, sebagai guru kita bisa mengajak mereka untuk jalan-jalan mengenal lingkungan terdekatnya. Jalan-jalan untuk mengkaji, menganalisis, dan membuat solusi atas masalah yang ditemukan selama jalan-jalan. Dalam proses ini, kita sudah mendekatkan proses pembelajaran dari realitas sosial terdekat dengan anak. 

Temui juga cerita lainnya di https://steller.co/idenide



Share:

Kamis, Juni 11, 2015

Sisi Lain Bermain, Bertualang, Belajar [2]

Buat saya, buku Bermain, Bertualang, Belajar itu terasa sangat berkesan. Buku tahun ini yang lahir bersama anak-anak di Sekolah Alam Bandung. Bukan buku saya, itu adalah buku mereka. Salah satu alasan mendasar kenapa lahir karya buku ini adalah keinginan memberikan sebuah jejak yang baik untuk sebuah tempat yang ditinggalkan. Nah, anak-anak Sekolah Alam Bandung jenjang SD 6 ini membuat sebuah buku yang diharapkan mampu menjadi inspirasi untuk adik-adik kelas atau siapapun yang membacanya.

Bermain, Bertualang, Belajar
Saat membaca buku tersebut, beragam rasa berkumpul, banyak sekali pengalaman anak-anak yang bisa dijadikan pelajaran. Mereka menuliskan banyak sekali kesan tentang perjalanan mereka selama bersekolah di Sekolah Alam Bandung.

Pengalaman adalah guru terbaik, demikian kita mengenalnya sebagai sebuah ungkapan yang terus menjadi bagian penting dalam pembelajaran. Menghadirkan pengalaman adalah bagian terbaik yang bisa dilakukan oleh guru agar anak-anak bisa belajar secara mengasyikan dan menyenangkan. Banyak pengalaman-pengalaman di sekolah yang bisa dijadikan sebagai pelajaran selain pelajaran-pelajaran tertulis seperti mata pelajaran pada umumnya.

Inilah ringkasan beberapa catatan pengalaman anak yang ada di buku Bermain, Bertualang, Belajar!


Pada waktu buka kelas,yang terseru adalah dimana kita saling berbagi cerita. Setelah itu kita mengaji 3 lembar Al-Qur’an. Terus kami langsung belajar sesuai jadwal .Yang paling ditunggu tunggu setelah belajar pastinya istirahat. Biasanya pada saat istirahat kami bermain bola di lapangan (Adli)

Sekolah di SAB sangat menyenangkan buat saya dan tidak akan pernah saya lupakan, karena lingkungan sekolah yang sangat alami,  sejuk dan asri, pemandangan yang indah, teman-teman yang kompak, guru-guru yang baik dan dekat dengan saya dan saya ke sekolah tidak usah memakai seragam dan sepatu. (Dhafin)

Setelah outbond kami memasak makanan sendiri, kelompok saya memasak tahu, kornet, sarden, telur, dan sayuran. Setelah kami memasak lalu saya makan makanan yang baru di masak. ada kelompok lain yang memasak sarden pedas dan salah satu kelompok nya ada yang sakit perut. (Fikri)

Aku langsung berlari keluar bivak sambil mengangkat kakiku tinggi-tinggi. Aku menghampiri wida yang matrasnya di bagian bawah bivak dan bersentuhan dengan matras dari bivak laki-laki yang ada di bawah bivak kami (Tata)

Kenapa pak Dino belum datang, padahal sekarang kami semua sudah kelas 5. Hari- haripun telah berlalu, sampai kami memasuki kelas 6. Kami sudah mulai serius belajar, saat sedang istirahat, aku melihat pak Dino di luar kelas. Akupun langsung pergi ke arahnya dan salam, walau pak Dino terlambat ia sudah menetapi janjinya (Faiza)

Aku punya guru-guru dan teman-teman yang menyenangkan yang juga serasi dengan pemandangan sekolahku yang asri mulai dari sawah, sungai, bukit, dan pepohonan yang banyak sekali (Salma)

Aku tak mengira waktu berjalan cepat sekali. Hari-hari berlalu dengan sangat cepat. Tidak terasa sekarang kami melaksanakan ujian kenaikan kelas untuk bisa lulus dan naik kelas ke kelas 5 SD. Enaknya ujian itu kita tidak harus terlalu menyamakan apa yang ada di buku atau modul, cukup dengan pemahaman kita tentang hal tersebut (Fida)

Saat kemah kelas 4, tempat yang dipilih adalah Rancaupas, di sana saya dan tim memilih tempat untuk membangun tenda, di sana juga saya diajarkan cara menggunakan kompas lalu saya dan yang  lainnya berpetualang menggunakan kompas.  Tim saya sempat tersesat,  tetapi akhirnya bisa kembali dengan selamat.  Saat saya mau pulang, ternyata ada masalah yang membuat kami semua jalan kaki dari dalam Rancaupasnya sampai ke kecamatan pasir jambu,  ternyata itu hanya sebagian dari latihan, dan kami semua hanya berjalan sampai kawah putih dan akhirnya berendam di kolam air panas untuk bermain-main (Ilmi)

  
Share:

Kamis, April 16, 2015

Ujian Nasional, Enjoy saja!

Ujian Nasional atau disingkat UN adalah hajat tahunan setiap sekolah dimulai dari kementerian pendidikan, dinas pendidikan provinsi, dinas pendidikan kota, dinas pendidikan daerah, rayon, sub rayon, dan sekolah. Sebuah gelaran yang sangat ditunggu-tunggu oleh banyak orang mulai dari orang di pemerintahan sampai rakyat di manapun berada. Menunggu untuk segera menyelesaikannya dan tuntas agar bisa melanjutkan ke SMP buat siswa kelas 6 SD, melanjutkan ke SMA untuk siswa kelas 9 SMP, dan melanjutkan kuliah untuk siswa kelas 12 SMA.

Mari memanjat tebing selepas Ujian Nasional (UN) (iden)
Banyak yang juga ketar-ketir menghadapi UN ini. Ada yang melakukannya dengan cara belajar sungguh-sungguh sampai mati-matian. Ada yang ke dukun, ada yang berdoa bersama, ada yang bakti sosial, dan masih banyak lagi persiapan agar UN bisa dilewati dengan baik, lancar dan hasilnya sangat memuaskan. Tak salah memang, manusia seharusnya demikian, berusaha dan terus berusaha.

Selain ada yang ketar-ketir, ada juga santai sesantai-santainya. Enjoy menghadapi UN dengan tidak bertindak berlebihan. Menganggap UN sebagai sesuatu yang biasa saja. Mengalir seperti air dan tinggal dikerjakan saat pelaksanaannya. Isi di LJK (Lembar Jawab Komputer) dengan tepat dan benar lalu kumpulkan dan beres. Waktunya cuma 3 hari, eh ada Ujian Sekolah, Ya sudah, ujian sekolah juga hadapi dengan santai saja. Enjoy dan nikmati saja prosesnya. Kalau sekarang ada yang Ujian Nasional Online, maka kerjakan dengan baik. Isi sesuai instruksi dengan tepat. Jaringan internet bukan urusan siswa, itu urusan penyelenggara. Buat jaga-jaga, gak apa-apa bawa modem sendiri, pada saat jaringan terganggu, kamu masih bisa menjawab soal UN. Jangan sekali-kali mencari jawaban UN di mesin pencari. Misalnya dengan mengetik "Kunci Jawaban UN 2015". Itu kecurangan luar biasa. Ingat, sesuatu yang curang itu tidak baik.

Anggap saja UN itu sebagai ujian kenaikan menuju jenjang selanjutnya. Bukan satu-satu harga mati untuk kelulusan apalagi menteri Anies Baswedan sudah menetapkan bahwa UN bukan penentu kelulusan. UN hanya bagian dari tantangan untuk diselesaikan agar mendapat hasil yang baik. UN adalah tantangan hidup saat ini buat kelas 6 SD, kelas 9 SMP, dan kelas 12 SMA. Sisanya akan banyak lagi tantangan di depan yang membutuhkan semangat belajar dan semangat pantang menyerah yang akan membutuhkan persiapan dengan baik.



Share:

Selasa, Agustus 19, 2014

Turun Tangan dan Sikap Politik

"Saatnya turun tangan, bukan hanya sekadar urun angan" Anies Baswedan.

Anies Baswedan 
Akhir 2013 dalam satu kesempatan diskusi bersama Anies Baswedan, saya merasa terpanggil untuk turun tangan oleh sebuah ajakan membangun Indonesia. Menuntaskan janji kemerdekaan Republik Indonesia. Salah satu janjinya yaitu mencerdaskan kehidupan Bangsa Indonesia. 

Anies Baswedan seorang yang menginspirasi saya untuk bergerak bersama-sama membangun Indonesia. Semua manusia Indonesia yang merasa tergerak untuk turun tangan, bisa melaksanakannya dalam bidang apapun. Seorang petani, seorang pedagang, seorang guru, seorang pengusaha, dan apapun profesinya bisa turun tangan membangun Indonesia. Kepedulian semuanya bisa dilakukan dengan melakukan kebaikan pada setiap bidang yang dikerjakannya. Tak harus menjadi politikus untuk membangun Indonesia. Untuk turun tangan menuntaskan janji kemerdekaan Indonesia.

Lalu bagaimana dengan sikap politiknya? Ini pertanyaan menarik. Siapapun orangnya yang bergerak dibidang politik, selama dia baik, orang baik, maka inilah kesempatan kita semua untuk mendukungnya. Lepaskan masalah latar belakang, orang baik pasti akan melakukan kebaikan tanpa pamrih. Ini tantangan orang baik, ketika ia sudah menjalankan kebaikan maka bersiaplah menerima kenyataan seolah-olah kebaikannya hanya alat untuk melanggengkan kekuasaannya.

Buat saya, orang baik itu perlu didukung. Seperti kata Anies Baswedan, di republik ini bukan tidak ada orang baik, tetapi orang baik lainnya malah mendiamkan ketika ada orang baik hendak melakukan kebaikannya.

Saya percaya benih kebaikan akan menghasilkan buah kebaikan. Inilah yang selalu menjadi dasar untuk selalu melakukan kebaikan bahkan sekecil apapun. Karena kebaikan sekecil apapun kebaikan akan memberikan dampak yang besar untuk alam semesta. Mari turun tangan, mari dukung orang baik di sekitar kita untuk menularkan kebaikan-kebaikan sehingga menjadin lebih besar.
Share:

Kamis, Juni 05, 2014

Terbebas Dari Pikiran Buruk

"Segalanya ada mantera-manteranya, harus terbebas dari segala pikiran buruk" (Nyungsang Bungo). 
Terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali, tepat untuk menggambarkan catatan ini. Film Sokola-nya sendiri sudah tidak diputar lagi di bioskop tapi ada satu hal menarik dalam ingatan saya yaitu kata-kata Nyungsang Bungo yang saya tulis di atas. ""Segalanya ada mantera-manteranya, harus terbebas dari segala pikiran buruk" kata Nyungsang Bungo kepada bu guru saat menjelaskan sebuah prosesi adat memanjat pohon besar.
Mari Jaga dan Pelihara Pohon ( 5 Juni)
Sebuah pohon yang besar, memiliki makna yang besar untuk kehidupan. Dulu dan sekarang, pohon adalah bagian penting yang menopang hidupnya jutaan mahluk hidup. Oksigen dihasilkan oleh sebuah pohon lewat proses fotosintesis. Masyarakat adat sangat patuh dan menghormati pohon. Terlepas dari masalah kepercayaan, sebuah pohon mengandung banyak makna buat masyarakat adat. Dalam film Sokola digambarkan pohon itu tempat sumber makanan, tempat lebah bersarang, dll.
Jangan lupakan mantera-manteranya, seperti kata Nyungsang Bungo. Mungkin saja kita melupakan hal ini, melupakan sebuah pranata yang akan melancarkan setiap tindakan sehingga terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Dilupakan atau terlupakan, sama saja. Padahal, tata krama dan sopan santun dalam memperlakukan alam ini sangat penting.
Hari Lingkungan Hidup yang biasa jatuh pada tanggal 5 Juni, akan menjadi bermakna jika semua orang sadar dan bisa memperlakukan setiap kehidupan dengan sopan santun dan tata krama yang baik. Menghormati pohon yang sudah mendukung kehidupan. 5 Juni bukan sekedar seremoni tahunan, menanam tetapi tidak merawatnya. Menanam lalu merawatnya adalah tindakan bijaksana untuk kehidupan dengan tanpa melupakan sikap hormat pada alam yang sudah ada sejak dahulu.
Pesan Nyungsang Bungo yang terpenting lagi adalah harus terbebas dari segala pikiran buruk. Ayoo.. masih punya pikiran buruk, hilangkan! Kerusakan alam bisa saja terjadi karena pikiran buruk manusianya. Ada juga yang menyebutkan salah satu parameter kebaikan manusia yang ada di alam ini dengan alam sekitarnya. Kalau sungainya bersih, maka orang-orangnya juga bersih dan pikirannya bersih. Sebaliknya kalau sungainya tercemar, kotor, dan berbau, mungkin orang-orang di sekitarnya juga mempunyai pikiran kotor, tercemar, dan bau. Mari merefleksikan diri di 5 Juni ini.
Share:

Selasa, April 22, 2014

Satyagraha dan Anak

Gandhi buat saya adalah sosok yang sangat menginspirasi. Lewat kisah hidupnya ia memberikan banyak pelajaran-pelajaran penting untuk menghadapi berbagai masalah dalam hidup serta mencarikan jalan keluarnya lewat ajaran-ajaran yang sudah ia lakukan. Ia memberikan pelajaran dengan pengalamannya. Sekali lagi, lewat pengalamannya. 

Gandhi bermain dengan anak (deepprayers.blogspot.com)

Salah satu hal yang menarik yang ingin saya bagikan perilah pendidikan anak yang sudah Gandhi lakukan dalam ajarannya yaitu satyagraha. Satyagraha bukanlah merupakan sebuah metode. Apapun yang lebih dari cinta adalah metode. Gandhi melihat satyagraha sebagaimana sebuah perilaku, sebuah kondisi internal dari cinta nirkekerasan yang menjadi kerangka hubungan kita dengan manusia lainnya. Perilaku ini datang dari dalam, bukan dari luar.

Lalu bagaimana hubungannya satyagraha dengan anak? Satyagraha memiliki tempat tersendiri. Kesabaran yang dipadukan dengan ketegasan yang akan membentuk pendekatan ini. Keadaan yang tak dapat disederhanakan dalam satyagraha keluarga adalah bahwa kesejahteraan anak merupakan yang pertama; pertumbuhan dan perkembangan mereka diutamakan di atas kepentingan yang lainnya. Ini berarti mengorbankan sedikit kesenangan pada waktu-waktu tertentu atau menolak, dengan halus tetapi tegas, jauh lebih sering. Yang paling penting, dalam pemikiran Gandhi, adalah teladan orangtua.
Gandhi bermain dengan anak (deepprayers.blogspot.com)

Ada kisah menarik tentang bagaimana Gandhi memberi teladan kepada anak. Pada usia 30-an ada seorang wanita yang datang ke Sevagram dan meminta Gandhi untuk membuat anak lelakinya berhenti makan gula karena tidak baik baginya. Gandhi menjawab dengan samar, "Kembalilah minggu depan."

Wanita itu pergi dengan bertanya-tanya, tetapi kembali seminggu kemudian dengan patuh menuruti instruksi dari Gandhi. "Jangan makan gula," Gandhi bekata kepada si anak ketika menemuinya. "Gula tidak baik untukmu." Lalu ia bercanda dengan si anak sebentar, memeluknya, dan mengembalikannya. Namun, sang ibu tidak mampu menahan rasa penasarannya dan kemudian bertanya, "Bapu, mengapa kau tidak mengatakannya hal ini minggu lalu ketika kami datang kepadamu? Mengapa kau membuat kami datang kembali?"

Gandhi tersenyum. "Minggu lalu," ia berkata sang ibu, "Aku juga sedang makan gula."
Satu lagi, kutipan Gandhi yang terus saya ingat "Bumi ini cukup untuk semua orang, tapi tidak untuk dua orang yang serakah" Selamat hari Bumi, 22 April.


Share:

Kamis, Maret 13, 2014

Respect

Selepas istirahat, anak-anak bermain sepakbola. Biasanya saya berikan waktu khusus sekita 15-30 menit untuk bermain sepakbola setelah mengerjakan LKS atau berkarya sebelumnya.
Minggu yang lalu saya ajarkan bentuk perkalian melalui permainan sepakbola. Menyilang dan melompat. Hampir seperti bentuk hitung loncat tetapi menggunakan bola yang dioper ke masing-masing temannya.
Respect (www.oncoursesystems.com)
Hari ini, kejadian menarik dan selalu berulang dari minggu-minggu sebelumnya adalah sikap ingin menang dan merasa tidak puas kalau kalah. Lalu saya ajak mereka diskusi langsung di lapangan (pendopo). Bahasan diskusinya adalah respek atau respect. Respect adalah sikap menghormati.
Melalui cerita tentang sepakbola, saya bercerita tentang pentingnya membangun respek terhadap Tuhan. teman, lawan, pelatih, wasit, dan penonton.
Respek kepada teman berarti kita harus menghormati teman kita dalam satu tim. Tidak boleh marah-marah kepada teman saat ia salah mengoper bola, salah menendang bola, dll. Kita harus menghormati teman kita sendiri karena mereka adalah satu tim yang sama-sama ingin menyukseskan permainan. Adanya teman kita yang membuat kita bisa bermain. "Bayangkan jika kamu bermain tanpa temanmu dan melawan tim lain yang lebih banyak temannya!"
Respek terhadap lawan berarti kita harus menghormati kehadiran mereka di lapangan. Adanya mereka membuat kita bisa bermain. Adanya mereka juga membuat kita harus berlatih sungguh-sungguh dan bermain dengan asyik. "Bayangkan kamu bermain tanpa lawan!"
Respek terhadap pelatih berarti kita harus menuruti instruksi orang yang sudah berpengalaman dalam mengatur permainan dan orang yang bermain. Tidak perlu marah-marah kepada pelatih saat ia menunjuk kita dalam posisi yang sebenarnya kita tidak sukai. Pelatih tahu potensi kita dan kita harus hormati keputusannya.
Respek terhadap wasit berarti kita menghormati kehadiran pengadil di tengah lapangan. Adanya wasit juga yang membuat kita bisa bermain di lapangan. Wasit juga manusia yang sesekali bisa salah, jangan terus menerus memprotes keputusan wasit dan kamu kehilangan kontrol diri yang akhirnya bisa mematikan potensi terbaikmu saat bermain. "Bayangkan bermain sepakbola dan tidak ada wasit yang menengahi saat ada konflik keputusan?"
Respek terhadap penonton berarti kehadiran pemain di lapangan adalah hiburan bagi mereka. Terkadang mereka punya harapan yang besar kepada pemain. Itu sesuatu yang wajar, makanya berikanlah tontonan terbaik untuk mereka nikmati dengan permainan yang indah. Mereka akan senang melihat pemain yang bermain dengan hati, bermain sungguh-sungguh. Hormati penonton, karena mereka bisa memotivasi pemain untuk mengeluarkan potensi terbaiknya dalam tim yang di dukung.
Respek terhadap Tuhan. Ini yang sangat penting. Tuhan yang mengatur semuanya. Adanya lapangan, adanya teman, adanya wasit, adanya pelatih, adanya penonton, dan adanya kita adalah karunia Tuhan. Tuhan sudah mengatur semuanya dengan baik. Saat kamu kalah, jangan mengeluh dan menyalahkan Tuhan. Terimalah itu sebagai motivasi untuk giat berlatih. Kalau hari ini kalah, berdoa, berlatih dengan giat, dan harapkan pada Tuhan agar besok kamu bisa menang.
Saat kamu menang hari ini, berterima kasihlah pada Tuhan. Syukuri dan doakan agar tim yang kalah bisa menerima dengan lapang dada!
Syukuri semuanya dan bermainlah dengan hati senang!
Share:

Minggu, November 17, 2013

Bermain Kelereng

Enam orang anak bermain di lapangan tanah dekat rumah mereka. Lapangan yang berukuran sekitar 6 x 3 itu cukup untuk bermain kelereng. Permainan yang mereka biasa lakukan selepas sekolah.
Bersama-sama membuat jarak lempar terlebih dahulu. Setelah cukup, jarak yang sudah disepakati kemudian diberi garis penanda. Selanjutnya adalah membuat lingkaran tepat di tengah-tengah sebagai kalang atau tempat menaruh kelereng sesuai kesepakatan. Misalnya menaruh masing-masing dua kelereng. Jika ada enam pemain, maka terkumpul dua belas kelereng di kalang tersebut. Pemenang berhak mengambil semua kelereng yang ada di kalang.



Seorang dari mereka kemudian melemparkan kelerengnya. Diikuti giliran orang kedua, ketiga, dst sampai habis dan kembali ke giliran awal. Mereka bermain dengan senang. Sesekali terdengar seorang bersuara keras memberi ketegasan. Misalnya ia merasa ada temannya yang bermain curang. Teman lainnya kemudian membela atau juga sama-sama mengatakan curang. Jika ia merasa tidak bermain curang, ia akan bertahan untuk mengatakan bahwa ia tidak bertindak curang.

Walau demikian, permainan terus berjalan. Kadang sambil menggerutu, mereka tetap melanjutkan permainan. Mereka merasakan kesenangan saat berhasil menuntaskan permainan. Bagi yang memenangi permainan, ia akan terus bersemangat bermain. Bagi mereka yang kalah, mereka juga tetap bersemangat untuk memenangi dan mengambil kembali kelereng yang sudah ada di tangan pemenang. Tentu saja lewat permainan lagi.

Keenam anak yang bermain kelereng itu tak terganggu kehadiran orang dewasa yang lewat. Mereka bergembira bersama. Dan yang terutama menarik adalah mereka belajar lewat permainan!
Share:

Kamis, November 14, 2013

Warna Warni Angkot

Bandung terkenal kreatif sejak dulu, semua kota juga sebenarnya kreatif. Berhubung saat ini saya penduduk Kota Bandung, ya sudah, Bandung Kreatif! Kreativitas sudah menjadi bagian penting dalam sebuah kehidupan. Dari dahulu kala, manusia menggunakan kreativitasnya untuk bertahan hidup. Lebih dari itu, sekarang kreativitas bukan saja masalah bertahan hidup tetapi sebuah passion, panggilan jiwa, dan hasrat tersendiri untuk hidup.
Jika melihat sekilas di lapangan, angkot hanyalah sebuah moda transportasi begitu saja. Bukan sebagai seni yang menarik. Tetapi jika dilihat dalam bentuk yang bersatu, setiap angkot dengan angkot yang lainnya memiliki keunikan tersendiri. 
Nah, kali saya terinspirasi oleh sebuah foto yang pernah dimuat di harian yang ada di Kota Bandung. Jajaran warna-warni angkot yang begitu indah dan mengesankan. Jangan pikirkan saat 'mengetem' atau menunggu penumpang yang lama serta macetnya, rasakan saja keindahan warna-warni angkot Bandungnya.
Warna warni angkot yang semarak ini akan menjadi sebuah hal menarik jika dibarengi dengan perilaku yang baik dalam berlalu lintas, misalnya tertib saat membawa angkot, tidak 'mengetem', patuh rambu-rambu lalulintas, dll.
Share:

Jumat, November 08, 2013

Menjelajah, Bertualang, dan Belajar

Kemarin malam saya mendapatkan kabar bahwa teman-teman @Gandawesi_KPALH sedang melakukan perjalanan ke Surabaya untuk menuju Gunung Semeru di Malang. Mereka akan mendaki gunung mencapai puncak Mahameru. Puncak yang disebut puncak para dewa.

Setiap teringat @Gandawesi_KPALH, saya selalu ingat slogan tak resmi yang menghiasi kehidupan saya. "Kuliah tong ngaganggu ulin". Semacam slogan yang terus menjadi bagian penting agar tetap "ulin" atau bermain.

Tak cukup hanya bermain tetapi ada banyak pembelajaran di dalamnya. Melalui akun @idenide di @twitter, saya mengirim pesan @idenide: selamat menjelajah, bertualang, dan belajar untuk teman-teman @Gandawesi_KPALH, ingatlah selalu "kuliah tong ngaganggu ulin".

Mari kita bermain agar semuanya menyenangkan. Anggap saja hidup ini juga per mainan. Oh iya, tentang permainan ini, saya ingat juga seorang teman. "Semua games ada akhirnya, semua permainan ada games over-nya". Saat itu, kalimat ini menguatkan saya tatkala tesis belum mendapat persetujuan untuk sidang. Padahal, saya merasa sudah mengerahkan semua kemampuan terbaik untuk menyelesaikannya. "Semua games pasti ada games over-nya" jadi saya tenang, semua hal yang terjadi akan berakhir, demikian juga dengan sebuah kehidupan.

Tetap semangat bermain!



Share:

Rabu, Oktober 16, 2013

Kamu Tetap Bernilai

Jika merasa dicampakan, terbuang sia-sia, dan merasa tidak berharga dan tidak dihargai, ingatlah selalu salah satu tulisan Paulo Coelho yang dikabarkan dari Carson Said Amer.
Dikisahkan seorang pengajar yang memulai seminar dengan memperlihatkan selembar uang dua puluh dolar dan bertanya, "Siapa yang menginginkan lembaran dua puluh dolar ini?"

Paulo Coelho
Beberapa orang mengangkat tangan, tetapi si pengajar berkata, "Sebelum saya memberikannya pada Anda, saya ingin melakukan sesuatu"

Dia meremas-remas lembar uang itu dan berkata, "Siapa yang masih menginginkan uang ini?"
Tangan-tangan kembali teracung.
Dia melemparkan lembar uang yang sudah kucal itu ke tembok, dan setelah lembar uang itu terjatuh, dia menginjak-injaknya, kemudian sekali lagi dia menunjukannya kepada peserta seminar --sekarang uang itu sudah benar-benar kucal dan kotor. Dia mengajukan pertanyaan yang sama, dan orang-orang tadi tetap mengangkat tangan.

"Jangan pernah melupakan pelajaran ini," katanya."Tidak masalah, apapun yang saya lakukan kepada lembar uang ini. Ini tetap selembar uang dua puluh dolar. Dalam hidup kita, sering kali kita dibuat kucal, diinjak-injak, diperlakukan buruk, dihina. Akan tetapi, meski mengalami semua itu, nilai kita tidak akan berubah."
 

Share:

Senin, Oktober 14, 2013

Semua Adalah Ilusi

Zen mengatakan "semua adalah ilusi". Ilusi adalah suatu persepsi panca indera yang disebabkan adanya rangsangan panca indera yang ditafsirkan secara salah. Ilusi yang paling mudah dikenal adalah ilusi optik. Ilusi optis adalah ilusi yang terjadi karena kesalahan penangkapan mata manusia. 

Semua yang tidak ada di hadapan kita itu hanya ilusi karena sebenarnya kita bisa membuatnya nyata di alam pikiran kita. Kita bisa saja berbicara dengan siapa saja yang kita inginkan, melakukan apa saja dengan mereka melalui alam pikiran kita. Kita bisa melakukan apa saja dengan bebas tanpa mengganggu orang lain di alam pikiran kita. Kita hanya cukup dengan menciptakan dunia di pikiran kita dan kita bebas melakukan apa saja di dunia kita.

Kita bisa saja ke masa depan dengan segala imajinasi yang kita miliki, kita bisa menjelajah jauh beberapa tahun ke depan yang mungkin tahun itu kita tidak hidup lagi. Jadi semua yang ada di dunia ini, yang kita lewati dan yang akan datang hanyalah ilusi.

Terkadang ilusi ini menyadarkan kita tentang hal yang terjadi dan bertentangan dengan pikiran kita adalah sesuatu yang wajar. Itulah ilusi. Demikian dan seterusnya, sebuah fakta dan pikiran bisa selalu bertentangan. Kedua bisa jadi benar tetapi keduanya bisa juga selaras. Pikiran kita dan hati kita mengendalikan semuanya. Seandainya orang lain menilai dengan subjektif tentang kenyataannya, ya terima saja. Lebih mudah! Semua adalah ilusi!


www.searchquotes.com

Share:

Selasa, Oktober 08, 2013

Saya dan Bis Kota

Catatan ini adalah pengalaman ketika masih berkuliah di setiabudi 207 Bandung, seperti biasa setiap hal yang berkesan di benak selalu saya tuliskan. Naik bis kota adalah salah satunya, baik sendirian atau bersama seseorang untuk mengantar Ledeng-Leuwipanjang atau sebaliknya jemput leuwipanjang-ledeng. Pertanyaan awalnya adalah apa istimewanya naik bis kota? Berdesak-desakan, bau keringat, polusi udara, bising dan kalau lagi apes mungkin saja kecopetan. Jauh-jauh lah dari musibah itu selain kapok juga rugi materi, uang hilang atau HP dan barang berharga lainnya.

Bus Damri
Tapi jangan berkecil hati dulu, ternyata naik bis kota juga sebetulnya mengasikan. Bukan karena bau keringatnya, bukan karena polusinya tapi karena pengalamannya. Nah pengalaman saya naik bis kota di Bandung membuat saya tertarik untuk menuliskannya.
Siang itu seperti biasa sehabis kuliah saya pulang sengaja tidak naik angkot, selain ongkos angkot rada mahal, kadang panas dan gerah terus banyak “ngetem” menunggu penumpang.

Bahkan perjalanan yang biasa ditempuh dengan waktu 1 jam pun bisa molor sampai 2 jam, bagaimana ga bete kenyataannya seperti itu. Disamping murah, naik bis kota selalu menginspirasi saya untuk menulis, biasanya ide yang muncul itu tiba-tiba saja ketika ada peristiwa atau percakapan orang lain yang terekam dalam memori. Kalau dewi, seorang penulis novel di Bandung, bilang bahwa itulah proses imajinasi, bukan melamun, kalau imajinasi diarahkan kalau melamun itu melayang-layang tidak tentu arahnya.

Barangkali anda tahu bahwa bagi sebagian orang bis kota adalah ladang untuk mencari nafkah, sesuap nasi. Ada banyak kreatifitas yang muncul dari mereka yang selalu tampil didalam bis kota. Anak-anak kecil, dewasa dan orang tua berlomba membuat kreasi-kreasi baru dalam menarik perhatian penumpang.

Ada yang bernyanyi solo tanpa gitar dan “genjring” ada yang berkelompok lengkap dengan instrumennya, ada yang berpuisi ria, ada yang bercerita, ada yang berpantun dan selalu saya melihatnya dari persfektif seni.

Kadang ada tawa ditengah kreasi mereka, kadang ada tangis, kadang ada bete-nya juga. Kalau kebetulan bete, saya tidak menikmati sajian kreasi apapun dalam bis kota itu. Biasanya saya mencoba mengusirnya dengan membaca buku-buku yang selalu saya sediakan dalam tas karena saya tahu kadang sewaktu-waktu pasti ada banyak waktu untuk membaca salahsatunya di dalam bis kota yang tentunya setelah menunggu di halte.

Bete saya hilang, tapi tidak dengan pembaca pantun pada waktu itu, ia begitu antusias membacakan pantunnya, sehabis membacakan pantun seperti biasa ia mengeluarkan kotak lalu menyodorkan satu persatu ke penumpang.Sampailah kotak itu pada saya, lalu saya masukan uang receh yang sudah saya siapkan. Entah kenapa tiba-tiba ia berujar, sambil loncat keluar bis “Buat apa membaca kalau tidak bisa di bagi dengan orang lain”.

Saya termenung sejenak, ada kemarahan yang muncul begitu saja, alasannya hanya saya tidak diberi kesempatan buat menjawa “Membaca itu tergantung selera, tidak semua yang dibaca harus dibagi”. Namun dia sudah ada diluar bis kota, walaupun demikian dari pengalaman itu saya berfikir mungkin benar buat apa membaca bila tidak bisa di bagi dengan orang lain. Tapi sekali lagi bagaimana dengan membaca komik, novel atau cerpen ?
Itulah bis kota, ada banyak dinamika didalamnya. Tentunya kita harus tahan dengan cobaannya selain jarang, juga banyak orang yang mengincar untuk naik bis kota dengan kepentingan – kepentingan yang beragam. Bila ingin berdinamika naiklah bis kota.
Share:

Selasa, September 17, 2013

Menilik Finlandia

Tanpa mengesampingkan negara lain yang memiliki sistem pendidikan sendiri, saya ingin melihat beberapa sisi penting dari pendidikan di Finlandia.
Pertama guru, guru adalah sosok yang inspiratif dan terpilih dari lembaga pendidikan guru. Lembaga pendidikan gurunya sangat keren dalam merekrut orang-orang pilihan untuk kemudian menjadi guru. Guru adalah lulusan magister yang dididik dengan baik sebelum terjun ke sekolah-sekolah.
Guru tidak banyak mengajar tetapi menginspirasi murid. Murid belajar banyak dari kegiatan sehari-hari.
Kedua, dukungan pemerintah yang besar untuk pendidikan. Pemerintah tidak banyak mengintervensi sekolah, sekolah berhak mengembangkan kurikulum yang tepat untuk dijalankan dalam lingkungannya sendiri.
Masih banyak lagi sisi-sisi menarik tentang Finlandia. Sebagai gambaran besar, saya cantumkan sebuah gambar ilustrasi yang menarik.

Share:

Kepercayaan

Intinya kepercayaan! Itu yang selalu mendasari saya menunjuk anak dalam melakukan tugas-tugas yang sekira terlihat seperti berat. Ketika kita percaya pada anak maka segalanya akan berjalan sebagaimana mestinya.
Walau hati tetap gusar dan deg-degan tetapi berusaha tenang. Ketenangan menjadi penting karena tenangnya kita akan menjadi tenangnya mereka juga.
Minggu ini anak-anak menjadi petugas upacara. Rasanya tidak bisa disebut sebagai tugas yang berat tetapi tidak bisa juga disebut sebagai tugas yang ringan. Berdiri dihadapan banyak orang saat semua perhatian tertuju pada kita itu bisa membuat grogi terutama bagi mereka yang jarang tampil dihadapan banyak orang. Petugas upacara itu punya beban yang berbeda dibanding peserta upacara. Semua punya tanggungjawab masing-masing untuk menyukseskan.
Petugas upacara itu terdiri dari pembaca susunan acara, pemimpin upacara, pembawa/pembaca teks pancasila, pembaca UUD '45, pengibar bendera, pembaca doa, dirigen, dan paduan suara.
Mereka harus berjuang bersama untuk menjadi tim petugas yang baik. Untuk itu mereka berlatih sebelum pelaksanaan. Melalui berbagai pengarahan tentang makna bendera merah putih serta tahapan pelaksanaa upacara bendera, mereka berlatih dengan sungguh-sungguh.
Dan kepercayaan penuh kepada mereka, bekerja dengan baik. Anak-anak mampu melaksanakan tugasnya sebagai petugas upacara. Tak diragukan lagi, mereka mampu! Percaya itu penting!
Share:

Selasa, September 10, 2013

Membuat Film

Tantangan yang menarik buat anak-anak adalah membuat film. Tentu saja harus disesuaikan dengan usia dan tahapan jenjang kelasnya. Untuk anak-anak Sekolah Dasar, bisa saja hanya berperan sebagai tokoh-tokoh dalam filmnya. Sementara untuk anak-anak SMP sampai SMA, mereka sudah bisa sendiri membuat film.
Ketertarikan saya pada film bukan karena latah atau sekedar ikut trend saja, tetapi pada kepenasaran tentang membuat film yang berbeda. Setelah membaca bukunya @maswaditya, Sila Ke 6 Kreatif Sampai Mati, saya menemukan ide sederhana tentang menuang ide dalam karya film. Stop motion, itulah jawabannya.
Setelah menimbang teknik, pertama dengan foto yang disambung satu sama lain sampai kemudian ditemukannya sebuah aplikasi praktis stop motion. 
Hasilnya memang mengasyikan untuk seorang saya yang sedang belajar. Beberapa video stop motion saya, bisa dilihat di youtube.
Hari ini adalah berbagi ide dan inspirasi @idenide
Share:

Rabu, Juli 24, 2013

Belajar Dari Master Shifu

Master Shifu: Focus. Focus!
Po: So I should stop talking 
Master Shifu: If you can
Dialog di atas adalah percakapan Master Shifu dengan Po. Master Shifu adalah murid Oogway sang guru yang meninggal dunia setelah pewaris pendekar naga ditemukan. Yah Pendekar Naga tersebut ada Po, seekor panda yang nyaris tidak memiliki bentuk dan perawakan sebagai seorang pendekar. Semua orang meragukan keputusan pemilihan Po sebagai pendekar naga. Termasuk yang meragukan adalah murid-murid yang sebelumnya sudah ia didik karena merasa pilihan pendekar naga harusnya salah satu di antara mereka. Tentang keraguan ini sebenarnya Master Shifu sekalipun, awalnya ia tidak yakin. Tetapi karena ia sangat percaya dan yakin dengan sang guru, maka ia tidak meragukan lagi. Ia bersiap mengajari sang pendekar naga!
Dan lebih dari itu, Master Shifu percaya takdir. Ia ditakdirkan untuk mendidik pendekar naga. Tak peduli siapapun itu orangnya, ia meyakini tentang kekuatan besar yang dimiliki oleh Po. Master Shifu menggunakan semua cara dalam mendidik Po. Sampai ia sendiri yang menemukan cara terbaik dalam mendidiknya yaitu sesuaikan dengan diri Po itu sendiri.
Persis seperti Master Shifu, kita belajar menerima takdir sebagai pendidik untuk menerima anak-anak yang memilih kita menjadi pendidiknya. Menerima anugerah semesta untuk memberikan pengalaman tentang hidup di dunia.Kita bisa mendidik mereka dengan berbagai cara sesuai dengan harapan yang kita bangun bersama mereka dalam keseharian. Mendidik seekor panda yang diragukan menjadi seorang pendekar naga yang kelak akan berguna bagi masyarakat.
Master Shifu, saya belajar dari anda!


Share:

Jumat, Mei 31, 2013

Koran Bekas Bungkusan

Saya teringat ketika membaca koran waktu kecil, bertanya pada ibu tentang siapa yang suka menulis di koran. Sebagai anak kecil yang penasaran, saya selalu tertarik mengetahui hal baru dari koran walaupun koran bekas bungkus baju, atau makanan. Beruntung, Ibu tidak langsung membuang koran bekas bungkusan tersebut. Inilah awal ketertarikan saya pada dunia tulis menulis.
Newspaper http://www.freegreatpicture.com
Keluarga kami tidak langganan koran, sekalinya langganan yang saya ingat Tabloid Hikmah, itu karena Bapak saya menilai tabloid ini sarat dengan nilai-nilai islam. Dahulu, bapak langganan Panji Mas. Saya menemukan arsipnya yang banyak diperpustakaan rumah. Sudah kotor, berdebu dan kusam. Saya menemukan tulisan-tulisan Hamka serta Muhammada Hatta di majalah tersebut.
Semakin saja saya penasaran tentang sosok dibalik berita serta opini-opini yang muncul. Ibu mengatakan bahwa orang yang suka menulis berita adalah wartawan. Sementara dari kakak saya mengetahui jenis wartawan, wartawan tetap dan wartawan freelance. Saya juga mengetahui kelebihan dan kekurangan kedua jenis wartawan tersebut dari dia. Karena begitu asiknya membaca koran, saya pernah bermimpi menjadi wartawan. Saya membayangkan betapa saya akan menjadi sosok dibalik berita yang ditulis dikoran, majalah ataupun tabloid. 
Memasuki dunia mahasiswa, saya berkenalan dengan Unit Pers Mahasiswa (UPM) Isola Pos. Ketertarikan saya pada mulanya dari mimpi kecil saya menjadi wartawan. Saya masih ingat ketika membaca salah satu poster training pers dan jurnalistik berbunyi ''Tertarik dunia wartawan, kepenulisan dan media? Ayo ikuti Training Pers dan Jurnalistik Mahasiwa (TPJM)''. Tahun pertama kuliah saya tidak mengikuti, baru pada tahun ketiga saya bisa mengikuti rangkaian kegiatan training pers tersebut. Tidak cukup hanya dikampus, saya mengikuti juga training pers diluar kampus.
Banyak pengalaman yang saya dapatkan dari training pers tersebut, terutama dunia mimpi kecil saya menjadi wartawan. Saya melatih diri membuat tulisan, saya melatih membuat berita dan berlatih mengelola media. Pengalaman yang berharga menjadi bagian dari dunia jurnalistik ini membuat saya semakin jatuh cinta pada dunia baca, tulis dan fotografi. Selain menambah uang beli buku ketika mahasiswa, pengalaman ini membukakan pada satu kenyataan bahwa menjadi wartawan itu mengasyikan walaupun resiko dan beban pekerjaannya berat. Teman saya sampai mengatakan tidak ada Tuhan selain deadline, saking begitu kerasnya mengejar deadline. Untuk teman yang satu ini, saya angkat topi atas pencapaian prestasi luar biasanya dalam mempraksiskan teori. Saya salut sama dia, saya belajar banyak pada dia.
Menjadi wartawan freelance, itulah saya. Dalam beberapa tahun yang lalu, saya pernah menjadi wartawan cabutan. Hanya bertugas kalau ada materi yang harus ditulis. Saya merasa merdeka menjadi wartawan seperti ini, saya tidak dikejar deadline. Kalaupun deadline, tenggang waktunya cukup untuk mengerjakan hal lain. 
Sampai hari ini, saya merasa dunia jurnalistik masih menjadi bagian hidup saya. Saya tetap menulis seperti sedia kala. Menulis membuat energi berlimpah, apalagi mewujud buku atau artikel yang dimuat di majalah, koran, atau media cetak lainnya. Sekarang, media online juga butuh menulis. Content is King, dan saya merasakan betul sebuah ide segar untuk mengisi konten itu sangat berharga. Hati-hati pencuri konten!
Nah.. kembali ke masa lalu, beruntung Ibu saya tidak langsung membuang koran bekas bungkus belanjaan pasar, ternyata koran bekas bungkusan tersebut membuat saya tetap menyukai dunia tulis menulis dan baca hingga kini.
Share:

Postingan Populer